Ad imageAd image

FKUB Jateng Sebut Kota Semarang Paling Toleran, Begini Alasannya

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 810 Views
3 Min Read
Dokumen pribadi Taslim. (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah (Jateng) menyebut Kota Semarang merupakan kota yang paling toleran.

Hal itu dikarenakan melihat dari berbagai peristiwa intoleran di Ibu Kota Jawa Tengah ini makin berkurang.

Selain itu, peran Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terkait upaya merawat toleransi antar umat beragama hingga antar etnis terus mencuat.

Ketua FKUB Jateng, Taslim Sahlan mengapresiasi Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu yang sudah menjaga serta merawat dengan baik.

Sehingga, Kota Semarang berhasil masuk rilis daftar kota paling toleran se Indonesia versi Setara Institute.

“Khususnya Kota Semarang kami dorong beberapa kali, bukan kami melakukan show off force tetapi terus berlatih menguatkan toleransi antarumat beragama,” kata Taslim, Sabtu (3/2/2024).

BACA JUGA:   Pihak Sekolah Harus Gencar Sosialisasi Perundungan, Pengamat Pendidikan: Jangan Lelah

Dia menyebut, Indeks Kota Toleran (IKT) yang diraih Ibu Kota Jateng tersebut berjalan sesuai niat dan tujuan awal menjaga toleransi. Pemerintah Kota (Pemkot) juga telah menunjukkan kerja baik dalam mengawal toleransi.

“Salah satu indikator moderasi beragama adalah penguatan toleransi, di samping komitmen kebangsaan, dan akomodatif terhadap local wisdom,” ujarnya.

Kota Semarang mendapatkan peringkat kelima pada 2023, setelah sebelumnya berada di urutan ketujuh. Pencapaian tersebut, dinilai signifikan pasalnya pada 2021 belum sepuluh besar, tepatnya di angka 12 dari 91 kota di Indonesia.

Dia menggambarkan suasana setiap Hari Raya Idulfitri. Contohnya, di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Kota Semarang, para umat beragama datang memberikan ucapan selamat hari raya.

BACA JUGA:   Wali Kota Semarang Minta Disbudpar Prioritaskan Pembangunan Sarpras Wisata

Begitu pula saat Perayaan Waisak, para pemuka agama muslim, pendeta, romo, biksu hingga penghayat kepercayaan melakukan hal yang sama.

“Kami masuk ke Vihara untuk mengucapkan selamat merayakan Waisak,” kata Taslim.

Saling berkunjung inilah, menurutnya yang harus didorong. Namun, dia menyatakan Mbak Ita telah menunjukkan upaya untuk mengarah Kota Semarang terbebas dari intoleran.

“Kami sebagai pegiat toleransi berharap bisa zero intoleran,” katanya.

Dia mengambil peristiwa lain ihwal intoleran yang pernah terjadi di Kota Semarang. Misalnya pendirian Gereja Baptis Indonesia (GBI) di Jalan Malangsari, Tlogosari, Pedurungan bisa dibangun setelah 20 tahun lebih adanya penolakan.

“Kami, kawan-kawan lintas iman dan agama juga mendampingi gereja itu dibangun dengan baik sampai sekarang bisa digunakan. Perhatian Pemkot Semarang sampai sekarang juga terus ada,” ujarnya.

BACA JUGA:   Tinjau Lokasi Banjir Semarang, Menteri PUPR Datangkan Pompa dari Luar Daerah

Kemudian pula, ketika umat Syiah menyelenggarakan Asyura mendapat gangguan dalam perayaannya. Pihaknya bersama pemerintah juga melakukan pendampingan.

“Bahkan kawan-kawan lintas agama datang merayakan. Saya kira Setara Institute memotretnya seperti itu,” ujarnya.

Sebagaimana yang diketahui, Kota Semarang kembali melanjutkan tren positif dalam pemajuan toleransi. Ibu Kota Jawa Tengah (Jateng) tersebut menempati peringkat kelima Indeks Kota Toleran (IKT) 2023 dengan skor 6,230 yang digelar Setara Institute.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan dibanding 2022 silam dengan skor 5,783 yang menempati posisi ketujuh. Pencapaian Kota Semarang terbilang progresif, sebab pada 2021 masih di angka 12 dari 91 kota di seluruh Indonesia.

Share this Article
Leave a comment