Judul : Kembali
Sutradara : GA/Galih Firdaus
Produser : Indra Prasetiya
Penulis Naskah : (Sri) Adrian Aery
Genre : Drama, Keluarga
Produksi : Pentacode dan PT. KAI
Durasi : 20 menit 24 detik
INDORAYA – “Kembali” adalah film pendek terbaru karya Kereta Api Indonesia (KAI) yang diunggah melalui kanal YouTube mereka, Kereta Api Kita. Film bergenre drama keluarga ini tayang perdana pada 26 Maret 2025 dengan durasi 20 menit 24 detik.
Sebelum “Kembali,” KAI juga sempat membuat film-film pendek lain. Seperti “Cara Melupakan Mantan” yang tayang pada 24 Desember 2024, berkisah tentang Rian yang hendak melupakan mantan kekasihnya dengan pergi ke sebuah tempat di Yogyakarta yang selalu dia impikan untuk datangi bersama mantan kekasihnya. Atau “Ruang Tunggu” yang menjadi film pelengkap dari film sebelumnya, “Pulang.”
“Kembali” bermula ketika Benji, seorang perawat di Panti Wreda Senja, tidak terlihat kehadirannya di panti. Ketidakhadirannya pun membuat perawat lain sadar bahwa Bu Sari, salah satu orang tua di panti tersebut, juga tidak ada di setiap sudut panti. Melihat kejanggalan yang terjadi, perawat tersebut melapor kepada Kepala Panti, Bu Dian.
Di saat yang bersamaan, Bu Dian juga membaca surat yang diberikan perawat tersebut. Surat yang berisi sebuah foto dan tulisan, ditulis oleh Benji sebelum dia meninggalkan rumah lansia itu. Benji menjelaskan semuanya di surat itu. Bahkan, seisi hidupnya.
Sebelumnya, Bu Sari meminta Benji untuk mengantarnya pulang ke rumahnya di Yogyakarta. Tapi ia yang tua dan menderita Alzheimer tidak berani untuk melakukan perjalanan pulang itu. Ditambah, panti itu sendiri berlokasi di Cirebon. Barangkali jika panti itu berlokasi di Surakarta, mungkin Bu Sari bisa naik KRL saja.
Dengan upah yang menjanjikan, dengan senang hati Benji mengantarnya. Walaupun sempat mengalami beberapa masalah di kampung halaman Bu Sari, tapi itu tidak mematahkan tekadnya untuk bisa membawanya ke tempat yang ia inginkan. Atau, yang ia butuhkan malah, bukan sekedar inginkan.
Kala mereka tiba di depan sebuah rumah yang terbengkalai, tanpa ragu, Benji mengajak Bu Sari masuk. Di ruang tamu yang penuh debu dan berbekal lilin sebagai pencahayaan, Benji mulai mengusap tangan dan kaki Bu Sari dengan kain perasan air hangat.
Juga, menyelimutinya dengan jaket dan sebuah syal. Walau tampangnya seperti preman yang memegang lima pasar, hatinya selembut anak kecil. Lebih spesifik lagi, seorang anak kecil yang diajak Ibunya naik kereta, kendaraan yang dia damba-dambakan.
Satu hal yang saya sukai dari film pendek adalah walaupun mereka berdurasi 15—30 menit, tapi mereka benar-benar bisa memastikan emosional penonton terbangun dengan baik dalam jangka waktu tersebut. Terlebih film-film karya KAI, mereka dengan baik merekam perjalanan pulang dan memberi makna yang dalam akan perjalanan itu sendiri.
Seperti ucapan Benji akan tanda baca semicolon yang ada di lengannya, “Di saat semua akan berakhir, pilihannya adalah mengakhiri. Tapi si Penulis berkehendak lain. Memilih untuk melanjutkan. Tidak berhenti. Makanya ditambah tanda koma. Ya, bisa dibilang, menemukan kembali harapan. Harapan untuk melanjutkan cerita.” (16:00—16:38).
Film ini memiliki alur yang sederhana namun kaya akan makna, pemilihan tempat di Cirebon dan Yogyakarta memberikan pesan bahwa sejauh apapun seseorang pergi, langkah akan selalu mencoba menuntun kembali ke rumah.
Pemilihan lagu “Cukuplah” karya Mr. Sonjaya pun membuat film ini memiliki arti yang lebih dalam. Lagu itu sendiri mencoba mengatakan bahwa kehilangan harus diterima dan dihadapi dengan keyakinan dan kekuatan cinta. Terutama, cinta abadi seorang Ibu.
Tapi, film ini juga memiliki beberapa bagian yang sedikit membuat saya bingung ketika menontonnya. Contohnya ketika surat yang akan diberikan pada Bu Dian, sudah ada di tangan seorang perawat.
Tidak begitu jelas asal-muasal surat tersebut. Begitu juga dengan Benji yang memiliki latar belakang di penjara sebelum dia diberikan restorative justice ke griya lansia itu. Barangkali, dua sampai tiga adegan bisa cukup menjelaskan alasan Benji ada di penjara.
Dan apresiasi sebanyak-banyaknya untuk KAI yang berinisiatif membuat film-film pendek bertema keluarga. Terlebih, ketika mereka juga menyorot akan stasiun dan kereta. Sebagaimana stasiun selalu menjadi saksi bisu akan tangis sedih dari sebuah perpisahan dan tangis bahagia dari sebuah pertemuan.


