INDORAYA – Kinerja ekspor Jawa Tengah terus menunjukkan ketahanan yang positif dengan mencatatkan surplus sekitar Rp13 triliun dalam periode Januari hingga November 2025.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jateng menyatakan bahwa transformasi menuju industri hijau (green industry) menjadi faktor pendongkrak utama nilai ekspor, sekaligus menjadi penyangga di tengah ketegangan geopolitik global yang penuh ketidakpastian.
Kepala Disperindag Jateng, July Emmylia mengungkapkan bahwa perubahan pola konsumsi global justru membuka peluang emas bagi produk-produk berkelanjutan asal Jawa Tengah.
“Sekarang ini kita justru sedang bertransformasi ke green industry. Referensi dunia dan konsumen global sudah berubah ke arah itu, dan ini sangat mendongkrak nilai ekspor Jawa Tengah,” jelasnya saat dikonfirmasi, Jumat (30/1/2026).
Ia menambahkan, meski sektor tekstil dan produk tekstil masih menjadi penyumbang terbesar, produk-produk ramah lingkungan menunjukkan tren permintaan yang meningkat pesat dan menjadi andalan baru.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah memperkuat pernyataan tersebut, di mana neraca perdagangan nonmigas provinsi ini mencatat surplus sebesar USD 3,15 miliar, meningkat signifikan sebesar USD 740,58 juta dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
“Alhamdulillah sampai sejauh ini tidak terpengaruh. Dari Januari sampai November 2025, secara struktur perdagangan masih surplus. Konsumen sekarang sudah cerdas, tidak hanya mendengar dari satu sisi saja,” tambah Emmy.
Ketahanan ini juga ditopang oleh realisasi investasi yang solid. Sepanjang 2025, realisasi investasi di Jateng mencapai Rp 88,5 triliun, melampaui target yang ditetapkan sebesar Rp 78,33 triliun.
Penanaman Modal Asing (PMA) didominasi oleh investor dari Hongkong, Singapura, dan Tiongkok, menunjukkan kepercayaan pelaku usaha terhadap iklim investasi dan ketahanan ekonomi daerah.


