INDORAYA — Di balik progres pembangunan sekolah rakyat di Jawa Tengah, pemerintah daerah menyoroti tantangan sosial dalam pelaksanaan program tersebut. Terutama terkait dukungan orang tua dan lingkungan keluarga siswa.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Jawa Tengah, Sri Adhi Widodo mengatakan, sekolah rakyat dirancang untuk membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang sempat putus sekolah.
Menurut dia, siswa sekolah rakyat memiliki beragam karakter. Proses adaptasi di lingkungan asrama sekolah menjadi salah satu tantangan dalam implementasi program Presiden Prabowo Subianto tersebut.
“Anak-anak di sekolah rakyat memiliki karakter yang beragam. Ada yang berasal dari keluarga tidak mampu, bahkan ada yang sebelumnya putus sekolah. Ini tentu membutuhkan proses adaptasi, terutama karena mereka diasramakan,” ujar Adhi saat ditemui di Kantor Dinsos Jateng Jalan Pahlawan Kota Semarang, Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, sistem pendidikan berasrama menuntut pembiasaan baru bagi para siswa, baik dari sisi kedisiplinan, perilaku, maupun pengendalian diri. Proses tersebut tidak selalu berjalan mudah dan membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.
Menurut Adhi, salah satu kendala yang kerap muncul justru berasal dari kurangnya pemahaman sebagian orang tua mengenai tujuan jangka panjang Sekolah Rakyat. Tidak jarang, orang tua memilih menarik anaknya dari sekolah ketika anak merasa tidak nyaman.
“Ada orang tua yang beranggapan, kalau anaknya tidak betah, ya sudah dikeluarkan saja. Padahal ini sangat disayangkan,” katanya.
Hingga 2026, sebanyak 14 sekolah rakyat telah beroperasi di 12 kabupaten/kota di Jateng dengan jumlah siswa mencapai 1.275 siswa. Ke depan, pemerintah menargetkan setiap sekolah rakyat definitif mampu menampung hingga 1.000 siswa sesuai arahan Kementerian Sosial.


