INDORAYA – Dua peserta ajang lari marathon trail Siksorogo Lawu Ultra 2025 meninggal dunia saat mengikuti perlombaan tersebut. Keduanya diketahui memiliki penyakit bawaan yang sebelumnya tidak disampaikan kepada panitia penyelenggara.
Korban pertama adalah Pujo Buntoro, ASN Kemenag Kota Solo, yang mengalami serangan jantung. Sementara korban kedua, Sigit Joko Poernomo, Kepala Biro Umum dan Hukum Kementerian Pariwisata meninggal akibat gangguan pernapasan yang dipicu penyakit paru saat berlari di suhu dingin.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jawa Tengah, Muhamad Masrofi menegaskan, event Siksorogo Lawu Ultra yang telah digelar sejak 2019 itu sebenarnya telah memenuhi standar keamanan dan memiliki SOP pelaksanaan yang ketat.
Namun, ia menyebut kedua peserta tidak terbuka mengenai riwayat penyakit yang mereka miliki saat menjalani pemeriksaan kesehatan pra-lomba.
“Dari pejabat Kemenpar itu punya riwayat jantung tetapi tidak terus terang menyampaikan saat ikut event Siksorogo Lawu. Yang satu punya penyakit paru, dan saat lari di kondisi udara dingin, asma kambuh. Ini yang tidak disampaikan saat tes kesehatan sebelum acara berlangsung,” jelas Masrofi, Selasa (9/12/2025).
Masrofi menuturkan, saat kejadian pihak penyelenggara sudah melakukan penanganan sesuai SOP, termasuk menyiagakan ambulans dan ratusan relawan untuk mitigasi risiko.
Disporapar Jateng juga telah mendatangi rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Lebih jauh, Masrofi mengimbau semua peserta event olahraga ekstrem, khususnya marathon trail jarak jauh, agar bersikap lebih terbuka soal kondisi kesehatan masing-masing.
Panitia dan EO, kata dia, selalu menyediakan surat pernyataan yang harus diisi peserta untuk memastikan keamanan selama mengikuti perlombaan.
“Kalau punya penyakit bawaan, siapa yang tahu kalau tidak disampaikan. Kita tentu beri asuransi untuk kecelakaan atau cedera, tapi untuk penyakit bawaan hanya bisa memberi santunan,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat dengan riwayat penyakit jantung, hipertensi, atau gangguan paru untuk mempertimbangkan kembali jika hendak mengikuti event lari jarak ekstrem.
“Harus ada keterbukaan dari peserta. Sampaikan saja kekuatan dan kelemahan fisiknya seperti apa. Ini sudah kedua kali terjadi, sebelumnya juga ada kasus di Kebumen karena peserta tidak terbuka soal penyakit bawaan,” ujar Masrofi.
Disporapar berharap kejadian ini menjadi pembelajaran agar tiap event olahraga dapat berlangsung aman tanpa mengabaikan faktor kesehatan peserta.


