Ad imageAd image

DPR Minta Nadiem Makarim Kaji Ulang Permendikbudristek Penyebab UKT Naik

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 701 Views
2 Min Read
Mendikbud Ristek Nadiem Anwar Makarim. (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda meminta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim merevisi Permendikbudristek Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Biaya Operasional Pendidikan Tinggi (SBOPT) pada PTN di Lingkungan Kemendikbudristek.

Permendikbudristek itu dianggap sebagai penyebab melonjaknya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di sejumlah PTN.

“Karena itu, kita minta dalam forum yang baik ini, Pak Menteri untuk mempertimbangkan adanya revisi terkait Permen Nomor 2 Tahun 2024,” kata Huda di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (21/5/2024).

BACA JUGA:   6.000 Guru Honorer Bakal Naik Status Jadi PPPK Akhir Tahun Ini

Ia menyebut aturan itu dimaknai oleh sejumlah PTN di Indonesia sebagai pintu masuk untuk menaikkan UKT.

Anggota Komisi X DPR F-PAN Zainuddin Maliki juga meminta Nadiem untuk meninjau kembali pemberlakuan aturan tersebut. Menurutnya, Permendikbudristek 2/2024 itu merupakan akar dari kegaduhan yang terjadi belakangan ini.

Penetapan Permendikbudristek Nomor 2/2024 tentang SBPOT menuai kritik dari berbagai kalangan.

Aturan itu mengatur kelompok UKT 1 sebesar Rp500 ribu dan UKT 2 sebesar Rp1 juta menjadi standar minimal yang harus dimiliki PTN. Sementara besaran UKT di tingkatan lainnya ditentukan oleh masing-masing perguruan tinggi.

BACA JUGA:   Respon Kebijakan Nadiem, Undip Semarang Tidak Naikkan Biaya UKT Mahasiswa

Kebijakan tersebut memicu protes dari mahasiswa di berbagai PTN, seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Universitas Negeri Riau (Unri), hingga Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, hingga Universitas Sebelas Maret (UNS).

Merespons protes itu, Sekretaris Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek, Tjitjik Sri Tjahjandarie, menyatakan pendidikan tinggi merupakan pendidikan tingkat lanjutan yang sifatnya pilihan. Ia menyebut pendidikan tinggi masuk dalam program wajib belajar 12 tahun.

Share this Article