Ad imageAd image

DP3AKB Jateng Siap Beri Trauma Healing Warga Wadas

Kartika Ayu
By Kartika Ayu 124 Views
3 Min Read
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah, Retno Sudewi memberikan pernyataan, Senin (14/2/2022). (Foto. Dok. DP3AKB Jateng)

INDORAYA – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Provinsi Jawa Tengah (Jateng), akan memberikan trauma healing pada warga Desa Wadas, Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo, khususnya perempuan dan anak-anak.

Kepala DP3AKB, Retno Sudewi, mengatakan perempuan dan anak-anak memang rentan mengalami trauma, saat terjadi kerusuhan, seperti di desa tersebut.

“Jika memang (diperlukan-Red) trauma healing bagi anak-anak dan perempuan, maka kami siap,” ujar Retno, Senin (14/2/2022).

Untuk langkah awal, pihaknya akan memantau kondisi terbaru di lapangan, termasuk menilai sejauh mana warga membutuhkan trauma healing.

BACA JUGA:   Heri Pudyatmoko: Persoalan Stunting Diharapkan Jadi Perhatian Serius Pemprov Jateng

“Lihat dulu kondisi lapangan, memang tupoksi dari dinas kami untuk melakukan trauma healing. Sehingga, anak-anak dan perempuan tidak trauma. Intinya sejauh mana, kondisi di lapangan,” katanya.

DP3AKB Jateng akan melakukan trauma healing, setelah mendapatkan keluhan sejumlah warga yang mendapatkan tindakan tegas aparat, saat mengawal pengukuran. Akibatnya, para warga terutama perempuan dan anak, mengalami trauma psikologis pasca situasi kericuhan tersebut.

Dari situ, Retno menjanjikan akan melakukan pendampingan dalam waktu secepatnya di Desa Wadas. “Pastinya, kita akan melakukan secepatnya,” tuturnya.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, memerintahkan DP3AKB Jateng, untuk memberikan perhatian serius, terkait peristiwa kericuhan tersebut. Salah satunya memberikan trauma healing kepada anak-anak dan perempuan yang berada di Desa Wadas.

BACA JUGA:   Heri Pudyatmoko Dorong Peran Generasi Muda sebagai Kontrol Sosial

Menurut Ganjar, dia sempat mendapatkan keluhan dari warga Desa Wadas, baik dari pihak yang pro maupun menolak penambangan saling ejek. Dampak dari renggangnya hubungan sosial itu, dirasakan semua orang, mulai dari orang tua hingga anak-anak yang sedang mengikuti proses belajar di sekolah.

“Sudah tadi dari teman-teman di Wadas, ternyata ada yang saling ejek, bahkan di sekolah ini tidak bagus,” ucapnya.

Dengan adanya trauma healing, Ganjar menjelaskan salah satu cara untuk memedulikan sisi kemanusiaan dan kenyamanan masyarakat. Maka, Ganjar juga meminta DP3AKB berkoordinasi dengan pihak lainnya agar bisa menyelesaikan apa yang terjadi di sana.

BACA JUGA:   Bupati Kendal Setujui Permintaan Pedagang Eks Pasar Weleri 1, Listrik Gratis dan Bebas Parkir Selama Tiga Bulan

“Kemudian kita langsung sampaikan koordinasi dinas pendidikan, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak ayo dong ngobrol mereka kalau perlu dengan KPAI atau dengan para ahli, kita bisa komunikasi dengan anak-anak yang di sana mereka nyaman sehingga tidak saling sindir, sehingga kita merespon persoalan-persoalan tepat nya sisi kemanusiannya kepada anak-anak disana,” paparnya. (IR)

TAGGED:
Share this Article