Ad imageAd image

Disdikbud Magelang Catat 25 Persen Anak Tidak Sekolah Mau Sekolah Kembali

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 708 Views
2 Min Read
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Imam Baihaqi. (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Imam Baihaqi menyampaikan, sebanyak 20 dari 80 anak tidak sekolah (ATS) di daerah setempat mau bersekolah kembali.

Imam mengatakan, sekitar 25 persen ATS yang mau bersekolah kembali itu telah masuk ke pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) baik paket B maupun paket C. Nama-nama mereka telah tercatat di masing-masing kecamatan.

Awalnya, Imam mengatakan, berdasarkan pensasaran percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE) jumlah ATS di Kota Magelang mencapai 753 anak.

BACA JUGA:   Wakil Wali Kota Magelang Tanda Tangani Pemilu Damai 2024: Sebagai Simbol Komitmen

“Tetapi ketika diverifikasi oleh tim disdikbud, dari 753 ATS tersebut yang kami datangi ke rumah-rumah, ada 80 anak yang memang tidak sekolah dengan alasan karena motivasi kurang, sudah bekerja, menikah, ada yang disabilitas, dan faktor ekonomi,” katanya, di Magelang, pada Senin (28/8/23).

Imam menjelaskan, data awal yang menunjukkan ratusan ATS itu pada tahun 2021. Namun katanya, setelah diverifikasi hanya ada 80 anak karena banyak yang sudah lewat batas usia, sedangkan yang diverifikasi adalah usia 7-21 tahun.

BACA JUGA:   Kota Magelang Berhasil Raih Manggala Karya Kencana 2023

“Yang menjadi permasalahan kami adalah dari 80 ATS itu tidak semua mau sekolah lagi. Paling sulit adalah bagi mereka yang sudah bekerja, karena sudah merasa nyaman akhirnya mereka malas untuk sekolah,” ujar dia.

Menurut dia termasuk mereka yang sudah berkeluarga maka sulit ada keinginan untuk kembali sekolah. Oleh karena itu, dia menilai hal itu menjadi tugas bagi pihaknya agar ATS itu mau bersekolah kembali.

“Karena bukan hanya mempengaruhi indeks pembangunan manusia, tetapi kemiskinan salah satunya disebabkan oleh faktor kurangnya pendidikan. Kalau pendidikannya tinggi otomatis pola pikir mereka akan lebih bagus dan harapannya tidak miskin,” ujar dia.

BACA JUGA:   58 Persen Lulusan SMP di Jateng Tidak Bisa Masuk SMA/SMK Negeri, Bagaimana Nasibnya?
Share this Article