INDORAYA – Dugaan keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa SMAN 2 Kudus pada akhir Januari 2026 menyisakan trauma bagi para siswa. Bahkan, sehari setelah kejadian, sebagian siswa enggan mengambil paket MBG yang kembali didistribusikan ke sekolah.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Provinsi Jawa Tengah, Budi Santosa, mengungkapkan kronologi kejadian bermula pada Rabu, 25 Januari 2026. Menurutnya, tidak ada tanda-tanda mencurigakan saat MBG dibagikan hingga siang hari.
“Baru malam harinya banyak siswa dan guru yang mengalami diare. Karena kejadiannya terpisah-pisah, awalnya dianggap kasus personal,” kata Budi saat dihubungi wartawan, Selasa (3/2/2026).
Kecurigaan mulai menguat keesokan paginya ketika banyak siswa mengeluhkan kondisi serupa dan meminta izin ke toilet saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Dari situ, pihak sekolah dan dinas menduga sumber masalah berasal dari MBG yang dikonsumsi sehari sebelumnya.
“Pagi harinya banyak anak izin ke belakang dengan gejala yang sama. Dari situ kami berasumsi kemungkinan besar ini terkait MBG,” ujarnya.
Dia menyebut, penanganan dilakukan dengan cepat melalui koordinasi lintas sektor. Forkopimda Kabupaten Kudus segera bergerak, ambulans didatangkan, dan para siswa serta guru yang terdampak langsung dirujuk ke fasilitas kesehatan.
“Koordinasinya cepat sekali. Ambulans yang datang sekitar 30 sampai 50 unit. Siswa dan guru langsung dibawa ke puskesmas dan rumah sakit,” jelas Budi.
Berdasarkan data rekapitulasi Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III, sebanyak 64 siswa SMAN 2 Kudus sempat menjalani perawatan di lima rumah sakit.
Rinciannya, 12 siswa dirawat di RS Sarkies Aisyiyah Kudus, 22 siswa di RSUD dr. Loekmono Hadi, 10 siswa di RS Kumala Siwi, 13 siswa di RS Mardi Rahayu, dan 7 siswa di RS Aisyiyah Kudus. Sementara siswa lainnya menjalani perawatan di puskesmas atau observasi tanpa rawat inap.
Budi mengungkapkan, dugaan sementara penyebab keracunan mengarah pada perbedaan waktu konsumsi MBG. Ia menjelaskan, SPPG Purwosari I Kudus juga menyalurkan MBG ke jenjang sekolah dasar, namun tidak menimbulkan kejadian serupa.
“SD juga menerima MBG dari SPPG yang sama, tapi makannya pagi. Sementara SMA makannya siang. Saat dikonsumsi, kondisi kuah dan ayam suwir sudah terlihat lengket,” ungkapnya.
Hingga kini, hasil pemeriksaan laboratorium dari Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih berlangsung. Tim dari SPPG pusat atau Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah turun langsung untuk menelusuri penyebab pasti kejadian tersebut.
“Masih dalam proses pemeriksaan. Dari BGN juga sudah hadir dan besok rencananya akan dilakukan rapat evaluasi,” kata Budi.
Pascakejadian, aktivitas belajar mengajar di SMAN 2 Kudus dipastikan kembali berjalan normal. Seluruh siswa dan guru telah masuk sekolah tanpa ditemukan gejala lanjutan.
Namun demikian, distribusi MBG masih dalam tahap evaluasi. Budi menyebut, pada Kamis (26/1/2026) MBG sempat kembali dikirim ke sekolah, namun banyak siswa enggan mengonsumsinya karena masih trauma.
“MBG waktu itu tetap datang, tapi anak-anak belum berani mengambil karena masih trauma,” pungkasnya.


