Ad imageAd image

Dinkes Jateng Catat 98 Orang Meninggal Karena TBC, Mayoritas Putus Pengobatan

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 801 Views
2 Min Read
Ilustrasi penyakit TBC. (Foto: istimewa)

INDORAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat, ada sebanyak 98 orang yang meninggal dunia akibat penyakit tuberculosis atau TBC. Mayoritas puluhan orang yang meninggal itu putus pengobatan atau lost to follow up.

Sub Kordinator Penyakit Tak Menular dan Menular Dinkes Jateng, Arfian Nevi mengatakan, total estimasi TBC sepanjang 2023 sebanyak 73.856 orang. Sementara angka temuannya lebih tinggi, mencapai 85.071 orang.

Menurutnya, TBC memiliki risiko kematian yang tinggi, sehingga pasien harus rutin melakukan pengobatan. Putus menjalani pengobatan bisa beresiko terhadap kematian.

BACA JUGA:   Petinggi PPP Jateng Bersyukur Mahfud MD Jadi Cawapres Ganjar: Beliau Pendekar Hukum

“Pengobatannya harus rutin dan tidak boleh putus. Catatan kami tahun 2023 ada sekitar 8 persen yang putus pengobatan, ini berbahaya krena yang putus pengobatan bisa menularkan TB resisten, kemudian bisa menyebabkan kematian,” katanya, baru-baru ini.

Arfian menjelaskan, TB resisten adalah kondisi di mana bakteri Mycobacterium Tuberculosis kebal terhadap obat TB lini 1. Akibatnya pasien yang TB resistensi harus melakukan kombinasi obat, di mana dalam hal ini obat lini 2 dan pengobatan lebih lama yakni 9-24 bulan.

Dikatakannya, penanganan TB resistensi itu dilakukan karena bakteri yang lebih kebal dan lebih susah untuk disembuhkan. Sehingga penanganan yang harus dilakukan lebih sulit.

BACA JUGA:   Buntut Statement Wakil Ketua II KONI Jateng, Rukma Berikan Bocoran Anggaran KONI Jateng

Penyebabnya tidak lain karena pasien yang tidak teratur menelan obat anti tuberculosis (OAT) sesuai panduan, menghentikan pengobatan secara sepihak sebelum waktunya, tidak memenuhi anjuran dokter atau petugas kesehatan, gangguan penyerapan obat atau dapat disebabkan oleh tertular dari pasien TB resistensi lainnya.

“Makanya yang tidak tuntas (pengobatan) ini risikonya tinggi, penularanya juga langsung TB resisten. Dan kalau tidak segera ditangani, di obatai, itu kumannya kan menyerang paru-paru. Akibatnya bisa merusak organ dan berujung kematian. Dan di 2023 yang meninggal itu ada, tapi sedikit, di bawah 8 persen pokoknya,” ucap Arfian.

BACA JUGA:   Pegawai Honorer Resmi Dihapus 2024, Bagaimana Nasib 16 Ribu Non-ASN di Jateng?

Berdasarkan data Dinkes Jateng terkait Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) atau evolution of DR TB treatmen 2023 cut off 8 Januari 2024, jumlah kasus ada sebesar 920 kasus dengan 730 di antaranya dalam pengobatan. Adapun yang sembuh 17 orang, lost to follow up 25 orang, dan meninggal 98 orang.

Share this Article
Leave a comment