INDORAYA – Susu oat (oat milk) selama ini populer sebagai alternatif susu sapi, terutama bagi mereka yang menghindari produk hewani. Minuman nabati ini kerap diasosiasikan dengan gaya hidup sehat dan dianggap lebih aman bagi tubuh. Namun, penilaian para ahli gizi menunjukkan bahwa klaim tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Sejumlah ahli justru menilai, susu oat berpotensi kurang menguntungkan bagi kesehatan jika dikonsumsi tanpa perhitungan nutrisi yang matang. Meski sering dipromosikan sebagai minuman tinggi serat serta diperkaya kalsium dan vitamin D, komposisi gizinya dinilai tidak seimbang jika dibandingkan dengan susu sapi.
Ahli gizi Melissa Rifkin menjelaskan bahwa susu oat mengandung karbohidrat, gula tambahan, serta minyak dalam jumlah lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis susu nabati lain, seperti susu almond.
“Oat milk latte bisa saja menjadi bagian dari pola makan sehat, tetapi secara nutrisi tidak lengkap jika dikonsumsi sendiri,” kata Riffkin, seperti dilansir Independent UK.
Rifkin menambahkan, kandungan protein dan lemak dalam susu oat relatif rendah, padahal kedua zat gizi tersebut penting untuk menjaga kestabilan gula darah dan membuat rasa kenyang bertahan lebih lama.
Pendapat senada disampaikan oleh ahli gizi Nour Zibdeh. Ia menyoroti tingginya kandungan karbohidrat dalam susu oat yang berpotensi menyebabkan lonjakan gula darah, khususnya jika dikonsumsi di pagi hari.
“Susu oat, bagaimanapun rendah protein dan lemak dan menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih parah,” kata Zibdeh.
Sementara itu, ahli gizi Samantha Cassetty mengingatkan bahwa satu cangkir susu oat mengandung sekitar 16 gram karbohidrat, jumlah yang hampir setara dengan selembar roti.
“Jika Anda sedang membatasi asupan karbohidrat, kandungan ini perlu diperhitungkan bersama makanan lain yang dikonsumsi atau mungkin ingin memilih jenis susu lain yang lebih rendah karbohidrat,” kata Cassetty.
Pandangan yang lebih kritis datang dari Jessie Inchauspe, ahli biokimia asal Prancis yang dikenal sebagai Glucose Goddess. Ia menilai susu oat dapat memicu lonjakan glukosa yang signifikan.
“Susu oat terbuat dari oat, dan oat adalah biji-bijian, dan biji-bijian mengandung pati. Saat minum susu oat, Anda minum jus pati. Anda minum jus yang mengandung banyak glukosa. Jadi, hal ini menyebabkan lonjakan glukosa yang besar,” katanya.
Menurut Inchauspe, susu sapi maupun susu berbahan kacang-kacangan seperti almond memiliki komposisi protein dan lemak yang lebih baik, sehingga lebih membantu menjaga kestabilan gula darah dibandingkan susu oat.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa susu oat tidak harus sepenuhnya dihindari. Konsumsinya masih dapat dilakukan dengan catatan dikombinasikan dengan makanan tinggi protein, seperti telur atau yogurt, guna menekan lonjakan gula darah.
Selain itu, konsumen juga disarankan lebih teliti membaca label kemasan, memilih susu oat tanpa tambahan gula dan tanpa emulsifier berlebih. Sebagai opsi lain, susu almond atau susu kedelai tanpa pemanis dinilai memiliki keseimbangan nutrisi yang lebih baik karena kandungan proteinnya lebih tinggi dan karbohidratnya lebih rendah.
Secara keseluruhan, susu oat dinilai bukan pilihan yang lebih baik dibandingkan susu sapi, terutama bagi mereka yang perlu mengontrol kadar gula darah. Kunci utama tetap pada pemahaman kandungan gizi dan penyesuaian dengan kebutuhan tubuh masing-masing.


