INDORAYA – Ratusan warga Kota Semarang mengikuti layanan skrining kesehatan mental gratis “Tilik Jiwa”. Program kolaborasi mahasiswa Universitas Diponegoro dengan Dinas Kesehatan Kota Semarang ini untuk mendeteksi gejala depresi dan kecemasan.
Digelar di Jalan Prof. Soedarto, Sumurboto, Kecamatan Banyumanik, antusiasme masyarakat terhadap layanan skrining kesehatan mental gratis ini terihat tinggi. Seluruh 100 slot peserta sudah terpenuhi sejak pendaftaran dibuka.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental sekaligus memperkenalkan layanan skrining kesehatan mental gratis yang tersedia di seluruh Puskesmas Kota Semarang.
Program Manajer Tilik Jiwa, Azizah Charis Hanifah mengatakan, masih banyak warga yang belum mengetahui bahwa skrining kesehatan mental telah disediakan pemerintah dan dapat diakses secara cuma-cuma.
“Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkenalkan skrining kesehatan mental yang dimiliki Puskesmas di Semarang. Sistemnya tidak berbayar untuk warga Semarang, tetapi faktanya masih banyak yang belum tahu layanan ini ada,” ujar Azizah di sela-sela kegiatan, Sabtu (13/12/2025).
Selain minimnya informasi, stigma negatif terhadap kesehatan mental juga masih menjadi tantangan besar. Hal tersebut terungkap dari survei yang dilakukan tim Tilik Jiwa di Kecamatan Banyumanik dan Tembalang.
“Masih banyak masyarakat yang memiliki stigma negatif terhadap kesehatan mental. Karena itu acara ini kami kemas dengan friendly approach, agar masyarakat memahami bahwa cek kesehatan mental itu tidak semenakutkan yang dibayangkan dan justru menjadi langkah preventif bagi diri sendiri,” jelasnya.
Dalam kegiatan ini, peserta mengikuti skrining kesehatan mental menggunakan PHQ-4 (Patient Health Questionnaire-4) secara daring, alat skrining singkat untuk mendeteksi gejala depresi dan kecemasan.
Untuk menciptakan suasana yang nyaman, panitia juga menghadirkan berbagai aktivitas pendukung seperti coloring therapy, ekspresi emosi melalui gambar, hingga post-it wall tempat peserta menuliskan pesan, apresiasi diri, maupun dukungan untuk orang lain.
Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan Kota Semarang melalui Puskesmas Bulusan turut menghadirkan layanan cek kesehatan fisik gratis. Seperti pemeriksaan tekanan darah dan gula darah serta membuka bilik konsultasi kesehatan mental bagi peserta yang berminat.
“Bilik konsultasi kami sediakan karena banyak orang yang sebenarnya butuh pendampingan, tetapi masih takut dengan stigma. Konsultasi ini bersifat sukarela, dan hampir setengah peserta memilih masuk ke bilik konsultasi,” ungkap Azizah.
Melalui kegiatan ini, Tilik Jiwa berharap masyarakat semakin sadar bahwa layanan skrining kesehatan mental telah tersedia di fasilitas kesehatan pemerintah dan dapat dimanfaatkan tanpa biaya.
“Output yang kami inginkan adalah meningkatnya awareness masyarakat dan berkurangnya stigma negatif terhadap kesehatan mental, sehingga partisipasi masyarakat dalam menjaga kesehatan mentalnya juga semakin tinggi,” bebernya.
Peserta kegiatan berasal dari rentang usia yang cukup luas, mulai 16 hingga 45 tahun, dengan mayoritas dari kalangan mahasiswa. Namun, tidak sedikit pula pekerja muda hingga keluarga yang datang bersama anak-anak.
Salah satu peserta, Renata Azzahra (20), mengaku tertarik mengikuti kegiatan ini karena ingin kembali memeriksa kondisi kesehatan mentalnya.
“Aku dulu sempat kontrol kejiwaan, tapi belakangan jarang. Kebetulan ada cek kesehatan mental gratis, jadi aku ikut,” katanya.
Renata menilai kegiatan semacam ini sangat relevan bagi generasi muda, terutama di tengah tekanan hidup saat ini.
“Sebagai Gen Z, kesehatan mental itu penting banget. Kita sering sibuk buat orang lain dan lupa diri sendiri. Cek kesehatan mental kayak gini perlu supaya kita tetap terkontrol dan nggak memendam semuanya sendiri,” ujarnya.


