Ad imageAd image

Densus 88 Tangkap 40 Teroris JAD, Diduga Hendak Gagalkan Pemilu 2024

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 756 Views
2 Min Read
Ilustrasi teroris (Foto: Istimewa)

INDORAYA – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri menangkap 40 tersangka terorisme dari anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Para tersangka teroris diduga hendak menggagalkan pelaksanaan Pemilu 2024.

Juru bicara Densus 88 Antiteror Polri Kombes Aswin Siregar mengatakan para tersangka teroris itu ditangkap di sejumlah wilayah. Mereka ditangkap pada tanggal 27 dan 28 Oktober lalu.

“Terdiri atas 23 orang ditangkap di wilayah Jawa Barat, kemudian 11 di wilayah DKI Jakarta, dan 6 di Sulawesi Tengah,” kata Aswin dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (31/10/2023).

Aswin mengatakan para tersangka merupakan jaringan kelompok JAD yang dipimpin seorang berinisial AU. Dia menyebut para teroris ini telah berbaiat kepada ISIS.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata Aswin, para tersangka diduga hendak melakukan sejumlah aksi untuk mengganggu pelaksanaan Pemilu 2024. Dia menyebut para tersangka menganggap demokrasi melanggar aturan JAD.

“Bagi mereka, pemilu adalah rangkaian demokrasi, di mana demokrasi itu adalah maksiat, demokrasi ini adalah sesuatu yang melanggar hukum bagi mereka,” ujar Aswin.

Aswin mengatakan kelompok tersebut diduga hendak melakukan serangan terhadap aparat keamanan yang bertugas selama proses pemilu. Dia menyebut hal itu merupakan bagian dari rencana besar para tersangka teroris, yakni menggagalkan pemilu.

“Mereka berencana melakukan serangan terhadap aparat-aparat keamanan yang menjadi fokus pengamanan dalam rangkaian kegiatan pemilu tersebut,” kata dia.

“Ada rencana penyerangan tersebut terutama ke fasilitas pengamanan polisi. Masih ada kaitan dengan aksi atau tujuan besar untuk menggagalkan pesta demokrasi atau rangkaian pemilu,” lanjutnya.

Aswin mengatakan Polri berkomitmen mengawal dan mengamankan Pemilu 2024. Densus 88, kata dia, terus memantau ancaman teror yang ada.

“Densus bisa memastikan bahwa tidak ada perubahan eskalasi ancaman yang harus kita khawatirkan. Tindakan-tindakan yang dilakukan adalah tindakan preemtif dan preventif,” ucapnya.

Share this Article