Dampak Perang Rusia-Ukraina Meluas, Krisis Energi Global Disebut Terburuk Sejak 1970-an

Ilustrasi. (Foto: istimewa)

INDORAYA – Dampak perang Rusia-Ukraina kini meluas ke krisis energi global yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah modern. Situasi ini bahkan dinilai melampaui gabungan krisis minyak pada era 1970-an serta gangguan energi akibat konflik geopolitik saat ini.

Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, menyatakan bahwa krisis energi yang terjadi saat ini merupakan kombinasi dari krisis minyak dan gas dalam skala besar.

“Krisis ini, jika dilihat dari situasinya saat ini, adalah gabungan dari dua krisis minyak dan satu krisis gas,” kata Birol saat berbicara di National Press Club of Australia, dikutip dari Al Jazeera pada Senin (23/3/2026).

Menurutnya, gangguan pasokan energi global dipicu oleh berbagai konflik, termasuk perang Rusia-Ukraina yang sebelumnya telah mengganggu pasokan gas, serta eskalasi konflik terbaru di kawasan Timur Tengah.

Dampaknya, pasokan minyak dunia mengalami penurunan hingga sekitar 11 juta barel per hari, atau lebih dari dua kali lipat dibanding krisis energi pada 1970-an. Sementara itu, pasokan gas alam cair (LNG) juga turun signifikan hingga sekitar 140 miliar meter kubik, jauh lebih besar dibanding dampak awal perang Rusia-Ukraina pada 2022 yang mencapai sekitar 75 miliar meter kubik.

Selain itu, sedikitnya 40 fasilitas energi di sembilan negara dilaporkan mengalami kerusakan akibat eskalasi konflik, yang semakin memperburuk kondisi pasokan global.

“Ekonomi global saat ini menghadapi ancaman yang sangat besar, dan saya sangat berharap masalah ini dapat diselesaikan sesegera mungkin,” kata Birol.

Ia menilai, skala krisis ini sebelumnya belum sepenuhnya dipahami oleh para pembuat kebijakan global, sehingga perlu adanya langkah cepat dan terkoordinasi.

Sebagai respons darurat, IEA telah merancang pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis. Selain itu, sejumlah langkah penghematan energi juga diusulkan, seperti penerapan kerja jarak jauh, penggunaan kendaraan bersama, hingga pembatasan kecepatan di jalan tol.

“Saya pikir kedalaman masalah ini belum sepenuhnya dipahami oleh para pembuat keputusan di seluruh dunia,” kata Birol.

IEA juga membuka kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak apabila kondisi semakin memburuk. Namun, Birol menegaskan bahwa solusi utama tetap terletak pada pemulihan jalur distribusi energi global, khususnya pembukaan kembali akses Selat Hormuz.

Sejak konflik memanas, harga minyak dunia dilaporkan melonjak lebih dari 50 persen akibat gangguan distribusi di jalur strategis tersebut. Kondisi ini mempertegas bahwa dampak perang Rusia-Ukraina tidak hanya terbatas pada kawasan konflik, tetapi telah memicu krisis energi global yang memengaruhi ekonomi dunia secara luas.