Judul : Hana-Tara-Hata
Genre : Fiksi
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Sabakgrip Nusantara
Tahun Terbit : 2025
Tebal : 384 Halaman
INDORAYA – Novel Hana-Tara-Hata karya Tere Liye, buku ke-17 dari serial Bumi, hadir sebagai spin-off yang memusatkan perhatian pada sosok Hana, perempuan tangguh dari Klan Matahari.
Berbeda dari buku sebelumnya yang menggunakan sudut pandang Raib, kali ini Tere Liye menuturkan kisah melalui sudut pandang orang ketiga, memberi pembaca kesempatan untuk menyelami kehidupan Hana secara lebih intim, sekaligus hubungan emosionalnya dengan putranya, Mata-Hana-Tara.
Ringkasan Cerita
Hana lahir di keluarga sederhana di Kota Exeos. Kedua orang tuanya bisa membaca tanda-tanda alam, tetapi sering salah menafsirkan pertanda tersebut. Berbeda, Hana memiliki kekuatan besar yang bahkan mampu menyelamatkan Kota Exeos dari bencana.
Meski mendapat pujian dan penghargaan, Hana memilih hidup tenang, menjauh dari sorotan, dan menjadi ibu pada umumnya, yang suka mengomel dan di takuti suaminya.
Konflik muncul ketika putranya, Mata, mengikuti Festival Bunga Matahari. Festival ini memperebutkan bunga matahari pertama yang menyimpan pengetahuan luar biasa—siapa pun yang memetiknya bisa memperoleh apapun yang diinginkan.
Mata, berbeda dari peserta lain yang ambisius, tumbuh menjadi pemuda rendah hati, berani, dan tulus, hasil didikan Hana dan ayahnya, Gara-gara-dia III. Bersama teman-temannya dan harimau putih andalan, Mata menghadapi monster dan bahaya yang menguji batas fisik dan batinnya.
Ketika Mata hilang dari festival, Hana yang telah 40 tahun berhenti berbicara dengan alam, kembali menggunakan kemampuannya untuk mencari anaknya. Bersama suaminya, ia meninggalkan Kota Exeos dan pergi ke Padang Perdu Klan Matahari.
Selama ratusan tahun, Hana memendam rahasia kebenaran tentang nasib Mata—yang dikalahkan oleh pemilik keturunan murni—sambil belajar ikhlas menanti.
Akhirnya, melalui perlindungan bunga matahari, Mata kembali ke Hana setelah 400 tahun, menutup kisah dengan emosi yang begitu mendalam.
Kasih Sayang Ibu
Yang membuat novel ini menonjol bukan sekadar petualangan atau dunia fantasi yang kaya, tetapi cinta Hana yang tak tergoyahkan. Tere Liye menggambarkan ibu yang rela menunggu ratusan tahun, tetap setia dan tabah demi anaknya, bahkan ketika dunia dan waktu seolah berjalan tanpa batas.
Hana bahkan rela berpindah ke tempat yang sangat asing baginya untuk mencari tahu kebenaran dan apa yang terjadi pada anaknya.
Hana bukan hanya perempuan kuat karena kemampuan uniknya, tetapi karena ketulusan dan kesabarannya menghadapi kehilangan. Hubungan emosional antara Hana dan Mata menjadi jantung cerita, membuat pembaca terbawa perasaan—tertawa, cemas, dan menitikkan air mata bersamaan.
Kelebihan
- Emosional dan menyentuh hati. Fokus pada hubungan ibu–anak terasa autentik
- Karakter kuat dan membumi. Hana digambarkan sebagai sosok yang luar biasa sekaligus sederhana
- Dunia fantasi yang kaya. Festival Bunga Matahari dan makhluk fantasi memberikan warna petualangan yang seru.
- Mandiri untuk pembaca baru. Meski bagian dari serial panjang, buku ini bisa dinikmati tanpa membaca semua seri sebelumnya.
Kekurangan
- Beberapa bagian festival dan ekspedisi terasa panjang, bisa membuat pembaca lebih fokus pada drama keluarga sedikit kehilangan tempo
- Adegan emosional tertentu mungkin terasa terlalu dramatis bagi sebagian pembaca dewasa.
Kesimpulan
Hana-Tara-Hata bukan sekadar cerita fantasi tentang kekuatan dan petualangan, tetapi tentang cinta ibu yang tak pernah usai, kesabaran yang melampaui waktu, dan keteguhan hati menghadapi kehilangan.
Meskipun bisa dibaca mulai usia 15 tahun, buku ini sangat cocok untuk remaja hingga dewasa muda yang menyukai fantasi berbalut pesan moral, terutama kisah tentang ketulusan dan pengorbanan seorang ibu.
Tere Liye kembali membuktikan kemampuannya meramu dunia fantasi yang kaya emosi, menjadikan buku ini wajib dibaca bagi siapa pun yang ingin merasakan hangatnya cinta keluarga di balik kisah epik fantasi.


