INDORAYA – Bencana banjir dan longsor yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatra tidak hanya berdampak bagi warga di daerah asal, tetapi juga menyisakan duka bagi ratusan mahasiswa rantau yang sedang menempuh pendidikan di Kota Semarang.
Di tengah bencana yang terjadi, tidak sedikit mahasiswa asal Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, kehilangan kontak dengan keluarga, kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, hingga menunda pembayaran kuliah.
Salah satunya dialami Yudha Sandi Pratama (21), mahasiswa Universitas PGRI Semarang asal Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh. Ia menceritakan pengalamannya empat hari tidak bisa berkomunikasi dengan keluarganya karena akses transportasi dan jaringan telekomunikasi terputus total.
“Saya putus akses itu empat hari, keluarga tinggal di Kabupaten Gayo Lues Aceh. Masuk ke lintas itu cuman hanya satu-satunya bisa dilalui lintas udara, kalau lintas darat sama sekali tidak bisa dan jaringan sama sekali putus di sana,” kata dia, Rabu (10/12/2025).
Meski rumah dan keluarga Yudha selamat, aktivitas perekonomian di kampungnya lumpuh, sehingga orang tuanya tidak dapat bekerja. Kondisi itu berdampak langsung pada biaya hidupnya selama merantau.
“Saya cukup terganggu untuk biaya kos, kuliah dan biaya hidup di perantauan. Saya sampai minta tolong sama teman-teman untuk minjamin uang gitu, karena kalau di perantauan sama sekali tidak tahu mau cari ke mana lagi,” kisahnya.
Di Semarang, tercatat 120 mahasiswa dari berbagai kampus terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumbar, dan Sumut. Mereka membuka posko bantuan di Asrama Mahasiswa Aceh, Jalan Iwenisari, Tembalang.
“Itu dari macam-macam kampus di Kota Semarang,” jelas mahasiswa semester tujuh tersebut.
Beberapa mahasiswa bahkan hingga kini belum mendapat kabar terbaru kondisi keluarga mereka. Ada pula laporan tentang keluarga yang hilang dan meninggal dunia akibat bencana. Persoalan biaya kos, kuliah, hingga kebutuhan sehari-hari menjadi beban berat bagi mahasiswa rantau tersebut.
“Banyak yang tertunda ujian, karena tidak bisa bayar,” ungkapnya.
Gubenur Jateng Beri Bantuan

Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi turun langsung ke Asrama Mahasiswa Aceh untuk memberikan dukungan moral dan memastikan kelangsungan pendidikan para mahasiswa asal Aceh, Sumbar, dan Sumut di Semarang.
Dalam pertemuan pada Senin (8/12/2025), Gubernur memberikan motivasi agar para mahasiswa tetap fokus belajar meski kampung halaman mereka sedang dilanda bencana.
“Saya hadir untuk adik-adik yang sekarang belajar di Provinsi Jawa Tengah. Percayalah bahwa bencana boleh datang, tetapi semangat adik-adik tidak boleh tenggelam. Anda di sini tidak sendiri, saya akan menjamin seluruh kegiatan belajar mengajar di tempat kalian. Jadi kamu punya bapak di sini,” kata Ahmad Luthfi.
Perhatian tersebut diwujudkan melalui berbagai bantuan berupa logistik maupun non-logistik. Pemprov Jateng menanggung biaya kos mahasiswa terdampak selama tiga bulan, serta berkoordinasi dengan pihak kampus untuk memberikan kemudahan pembayaran kuliah.
“Kita bantu kosnya selama tiga bulan, kemudian untuk biaya kuliah, saya sudah sampaikan kepada rektor masing-masing agar diberikan kemudahan, termasuk dari pemerintah provinsi juga akan membantu semua kegiatan adik-adik mahasiswa,” kata Luthfi.
Ia juga mengupayakan akses komunikasi agar mahasiswa dapat kembali terhubung dengan keluarga mereka di wilayah bencana. Gubernur berharap para mahasiswa tetap tenang dan tidak terganggu dalam menjalani pendidikan di Jawa Tengah.


