Ad imageAd image

CEK FAKTA: Prabowo Klaim RI Mampu Swasembada BBM, Solar dari Sawit

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 47 Views
5 Min Read
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. (Foto: Tangkapan layar YouTube PAN TV)

INDORAYA – Calon presiden Indonesia 2024 terpilih, Prabowo Subianto mengklaim bahwa Indonesia akan menjadi negara yang mampu memenuhi kebutuhan energi dan bahan bakar minyak (BBM) sendiri atau sudah berswasembada.

Hal itu dikatakannya dalam acara buka bersama yang digelar di Kantor DPP Partai Amanat Indonesia, Kamis (21/3/2024). Acara ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube PAN TV.

“Para pakar energi internasional mengaatakan Indonesia nanti dalam waktu yang tidak lama bisa menjadi (negara yang) 100 persen swasembada energi, smasembada BBM,” kata Menteri Pertahanan RI tersebut.

Prabowo mengatakan, hal ini seiring dengan pemanfaatan potensi sumber daya alam dan energi terbarukan guna menekan impor BBM. Dia menyebut, jika ini berhasil, maka BBM yang digunakan akan lebih lebih ramah lingkungan.

Terkait swasembada energi, dia berkata bahwa bahan BBM jenis solar bisa bersumber dari kelapa sawit serta BBM jeis bensil dari tebu, singkong, dan aren.

“Solar kita 100 persen bisa dari kelapa sawit, bensin kita 100 persen bisa dari etanol, etanol bisa dari tebu, bisa dari singkong, bisa dari aren,” bebernya.

BACA JUGA:   [HOAKS] Bank Indonesia Gulirkan Bantuan Rp125 Juta untuk Pelaku UMKM

Bagaimana faktanya?

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan, program pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel ke dalam minyak Solar sebesar 30% (B30) membuat Indonesia berhasil menekan impor BBM jenis solar.

“Alhamdulillah kita sudah tidak impor BBM jenis solar karena tadi ada B30 dan B35,” katanya dilansir dari CNBC Indonesia, (31/10/2023).

Selain solar, Indonesia juga sudah terbebas dari impor bahan bakar pesawat alias avtur. Hal ini seiring dengan produksi di kilang yang cukup masif.

Djoko menyebut, indeks ketahanan energi Indonesia saat ini berada di angka 6,61 yang artinya masuk kategori aman. Di mana ketika dunia sedang krisis energi, masyarakat Indonesia masih merasakan keandalan pasokan listrik dan ketersediaan BBM maupun LPG.

“Angka 6,61 itu bener-bener tahan nah sudah teruji ya negara lain Krisis batu bara krisis gas kita listrik nyala 24 jam, masyarakat tersedia BBM maupun elpiji nah itu suatu pertanda bahwa hitungan para expert adalah teruji dan terbukti bahwa kita masuk kategori tahan,” katanya.

BACA JUGA:   [SALAH] Ribuan Ulama dan Golongan NU Ikut Komando Ma’ruf Amin Dukung Anies 2024

Pakar Ekonomi Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah yang dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan impor BBM berasal dari bahan bakar fosil ke sumber alam hayati yang melimpah.

“Indonesia mempunyai resources cukup berlimpah ruah salah satunya etanol kemudian juga ada sawit dan itu bisa dijadikan sebagai alternatif untuk BBM,” ujarnya, dilansir dari Republika.co.id, (1/32024).

Meski begitu, diperlukan waktu yang cukup untuk menuju ke arah sana. Pasalnya Indonesia belum mempunyai teknologi sehingga perlu pengembangan teknologi untuk mengolah sumber daya alam Indonesia menjadi energi hijau.

Fahmy mengatakan, sementara ini untuk mempercepat transfer teknologi pemerintah atau dalam hal ini Pertamina bisa bekerja sama dengan perusahaan asing yang sudah memiliki teknologi khususnya bidang minyak dan gas multinasional

“Jadi resources yang kita miliki ini kan berlimpah ruah hanya masalahnya kan kita tidak punya teknologi nah pilihannya itu dikembangkan sendiri membutuhkan waktu panjang dan itu belum tentu berhasil,” ucapnya.

BACA JUGA:   CEK FAKTA: Klaim Anies Soal Anggaran Rp 700 Triliun Kemenhan untuk Beli Alutsista Bekas

“Nah maka yang paling tepat bagaimana menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang punya teknologi tadi apakah itu dari Amerika atau Eropa, atau bahkan Cina sekarang dia punya teknologi tadi,” imbuh Fahmi.

Denny Gunawan, peneliti energi The University of New South Wales (UNSW) Sydney mengakui Indonesia ialah salah satu negara dengan produksi bahan bakar biomassa terbesar di dunia. Biomassa merupakan energi terbarukan dari bahan organik seperti tumbuhan dan hewan.

Berdasarkan data Our World in Data, pada 2022 Indonesia mampu memproduksi bahan bakar biomassa sebesar 108.22 TWh. Jumlah ini di bawah Amerika Serikat (451.83 TWh) dan Brazil (254.02 TWh). Kendati begitu, kata Denny sampai saat ini belum ada negara yang beroperasi sepenuhnya dari bahan bakar biomassa.

Data Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan, Amerika sebagai negara penghasil bahan bakar biomassa terbesar di dunia hanya mampu memproduksi 5 persen untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Sementara, Brazil memproduksi 34 persen biomassa untuk memenuhi kebutuhan di negaranya.

Sumber:

https://www.cnbcindonesia.com/news/20231031131652-4-485187/dewan-energi-ungkap-ri-sudah-tak-lagi-impor-solar

https://ekonomi.republika.co.id/berita/s9o6gk430/pakar-dukung-rencana-prabowo-stop-impor-bbm-dan-komitmen-swasembada-energi-terbarukan

https://www.kompas.com/cekfakta/read/2023/12/12/085959882/cek-fakta-prabowo-klaim-indonesia-akan-jadi-satu-satunya-negara?page=all#google_vignette

Share this Article
Leave a comment