INDORAYA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk mengantisipasi banjir berulang, menyusul jebolnya tanggul Sungai Plumbon yang merendam permukiman warga di Kelurahan Mangunharjo dan Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu, Jumat (26/12/2025).
Saat ini, BPBD Kota Semarang telah menyiagakan sebanyak 22 unit Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini bencana yang terpasang di sejumlah titik rawan di Kota Semarang.
Selain itu, pada tahun 2026 mendatang BPBD juga berencana kembali melakukan pengadaan EWS guna memperkuat sistem peringatan dini.
“Untuk 2026 ini akan ada pengadaan EWS lagi,” ungkap Kepala BPBD Kota Semarang, Endro Pudyo Martanto saat dikonfirmasi wartawan, Jumat.
Endro menjelaskan, EWS dipasang di kawasan sungai yang rawan meluap serta daerah rawan longsor. Salah satu unit EWS dilaporkan hilang di aliran Sungai Pudak Payung.
“Ketika ketinggian air naik, sensor langsung membaca debit air dan berbunyi keras. Warga bisa segera mengevakuasi diri,” ujarnya.
Selain penanganan darurat, BPBD Kota Semarang juga menyiapkan strategi jangka pendek hingga menengah untuk menekan risiko banjir, khususnya di kawasan Kaligawe yang selama ini dikenal rawan genangan.
“Beberapa hari ke depan kami fokus memperkuat sodetan Unissula untuk memperlancar aliran air dan menanggulangi banjir di kawasan Kaligawe,” kata Endro.
Menurutnya, strategi mitigasi jangka pendek dalam kurun waktu 1 hingga 3 bulan ke depan mencakup lima fokus utama.
“Mulai percepatan dan penguatan sodetan Unissula Kaligawe, optimalisasi drainase dan pompa melalui normalisasi harian, penambahan pompa besar, serta penyediaan pompa cadangan,” lanjutnya.
Sebelumnya diberitakan, hujan deras yang mengguyur wilayah barat Kota Semarang menyebabkan Sungai Plumbon meluap dan menjebol tanggul di sejumlah titik. Peristiwa tersebut merendam ratusan rumah warga di Kelurahan Mangunharjo dan Mangkang Kulon.
Berdasarkan data di lapangan, terdapat empat titik tanggul yang jebol. Satu titik berada di Kelurahan Mangkang Kulon, tepatnya di RT 2 RW 3, sedangkan tiga titik lainnya berada di Kelurahan Mangunharjo, masing-masing di RT 6 RW 4 dan RT 2 RW 4.
“Sekitar pukul 14.30 WIB air mulai melimpas. Tidak berselang lama, tanggul jebol dan air langsung masuk ke rumah warga,” ujar Akhiar, warga RT 6 RW 4 Kelurahan Mangunharjo.
Akhiar menyebut ketinggian air yang masuk ke rumah warga mencapai sekitar satu meter dan datang dengan sangat cepat. Meski demikian, warga sempat mengevakuasi barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.
“Sekitar satu meter, masuk rumah. Ini kita lakukan pembersihan lumpur, setelah air surut,” ujarnya.
Ia bersama warga lainnya berharap pihak berwenang segera melakukan perbaikan tanggul sebagai langkah penanganan darurat, mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan.
“Harapannya bisa ditambal sementara dulu, agar tidak kebanjiran lagi,” harapnya.


