INDORAYA – Zainal Abidin Petir, kuasa hukum keluarga almarhumah Dwinanda Linchia Levi, mengungkap bahwa saksi kunci dalam kasus kematian dosen Untag Semarang, AKBP Basuki, terlihat dalam kondisi panik ketika berada di Kostel Mimpi Inn di Jalan Telaga Bodas Raya, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, pada Senin pagi (17/11/2025).
Pernyataan tersebut disampaikan Petir setelah ia melakukan pertemuan dengan penyidik Ditreskrimum Polda Jateng pada Kamis (27/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa gerakan AKBP Basuki terekam jelas melalui kamera CCTV kostel. Menurutnya, pejabat polisi itu sudah berada di dalam area kostel sejak Minggu (16/11/2025) sekitar pukul 14.00 WIB.
Kecurigaan muncul karena setelah masuk ke dalam kostel, AKBP Basuki tidak terlihat keluar sama sekali dan diduga bermalam bersama Levi.
“Setelah masuk, dia tidak keluar-keluar. Apa yang dilakukan sampai pagi? Kemudian dia sering keluar-masuk lorong untuk mengambil minum. Di kostel itu kan kulkasnya hanya satu. Kalau sekadar keluar mengambil minum tidak masalah, tetapi AKBP Basuki itu metu-mlebu, keluar-masuk berkali-kali seperti orang panik. Nah, paniknya itu karena apa?” ungkap Petir saat ditemui Indoraya.News.
Ketika ditanya mengenai kondisi AKBP Basuki saat masuk ke kostel—apakah menunjukkan gelagat aneh atau kondisi tubuh tertentu—Petir mengatakan bahwa ia belum melihat ulang rekaman CCTV tersebut.
“Kondisinya saya belum tahu. Yang jelas, dia masuk berdua. Apakah jalannya sempoyongan, tegar, atau dirangkul, saya tidak tahu. Dia masuk sejak sore dan berada di sana sampai pagi. Pagi tidak terlihat keluar,” ujarnya.
Petir juga menyoroti sejumlah hal janggal di lokasi kejadian. Ia mempertanyakan mengapa tubuh Levi ditemukan dalam posisi “tergeletak begitu saja”, seolah tidak sedang tidur bersamaan dengan AKBP Basuki. Menurutnya, bila keduanya memiliki kedekatan, tidak wajar posisi tidur terpisah, terlebih tubuh korban berada di lantai.
“Kok iso nggeletak ngono? Opo turu dewe-dewe? Kalau pacaran, ya tidak tidur sendiri-sendiri. Kok di lantai? Itu yang saya tanyakan pada penyidik. Kenapa di lantai? Apakah terjatuh? Atau setelah aktivitas tertentu korban tak sadar dan diletakkan di lantai untuk dibersihkan? Kalau membersihkan pakai air di kasur kan bisa membuat kasur basah. Secara logika bagaimana?” bebernya.
Lebih jauh, ia juga mempertanyakan soal estimasi waktu kematian Levi.
“Saya mempertanyakan sebenarnya meninggalnya jam berapa. CCTV menunjukkan pukul 05.30 pagi. Saya yakin sebelum jam itu korban sudah meninggal. Ini keyakinan saya. Supaya jelas, matine iki jam piro?” tegas Petir.
Menurut rekaman CCTV, Levi ditemukan sekitar pukul 05.30 WIB. Namun keanehan muncul karena AKBP Basuki baru membuat laporan ke polisi sekitar pukul 10.30 WIB.
“Laporannya baru jam 10.30. Ngapain selama itu? Kenapa tidak segera melapor? Wong dia polisi. Panik. Paniknya kenapa? Orang panik itu biasanya karena ada kesalahan atau ketakutan,” ungkapnya.
Petir menilai bahwa perkara ini sebenarnya tidak rumit untuk diungkap. Rekaman CCTV berfungsi, dan sejumlah barang bukti sedang dianalisis oleh Laboratorium Forensik Polda Jateng.
“Sederhana. Almarhumah satu kamar dengan AKBP B. Di situ meninggal dunia. Sebelumnya, AKBP B sudah beberapa hari di situ. Alat buktinya ada, CCTV menyala, terlihat keluar-masuk kamar. Sudah bisa dibaca penyidik. Tinggal menunggu bukti penunjang lain dari labfor dan HP-nya. Jadi ini sederhana. Kita tunggu saja siapa tersangkanya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Artanto, membenarkan bahwa kamera CCTV di lokasi memperlihatkan berbagai aktivitas di area kostel.
“Kalau aktivitas biasa ya keluar-masuk. Tetapi rangkaian keluar-masuk itu bisa disusun menjadi kronologi peristiwa,” jelasnya.


