INDORAYA – Potensi durian berkualitas di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah (Jateng), mulai mendapat sorotan dari para petaninya sendiri. Mereka berharap pemerintah daerah hingga pusat turut melirik dan mendorong pengembangan Desa Branjang, sebagai kawasan agrowisata durian.
Harapan tersebut muncul seiring besarnya peran Desa Branjang sebagai salah satu sentra durian utama di Kabupaten Semarang. Selama ini, durian yang dikenal publik di Kota Semarang kerap identik dengan Gunungpati, bahkan populer dengan sebutan Durian Gunungpati atau Monti (Montong Gunungpati). Padahal, pasokan terbesar durian ke kawasan tersebut justru berasal dari Desa Branjang.
“Kami berharap pemerintah bisa menjadikan kawasan ini sebagai wisata durian. Ke depan bisa diberi nama Durian Branjangan. Desa Branjang ini menjadi salah satu penyangga utama durian di Gunungpati,” ujar Ketua RW 03 Desa Branjang, Zamroni, saat ditemui Indoraya.News, Minggu (18/1/2026).
“Pada prinsipnya, pasokan terbesar pasar Gunungpati berasal dari kami, meski selama ini diatasnamakan durian Gunungpati,” imbuhnya.
Zamroni menjelaskan, Desa Branjang memiliki modal kuat untuk dikembangkan sebagai kawasan agrowisata durian. Saat ini, luas lahan kebun durian milik petani telah mencapai lebih dari 15 hektare dan terus berkembang. Bahkan, mulai bermunculan pendatang baru yang membeli lahan khusus untuk ditanami durian.
Menurutnya, faktor geografis turut berperan besar dalam kualitas durian Branjang. Desa tersebut berada di lereng Gunung Ungaran dengan kondisi tanah yang subur dan ketinggian wilayah yang mendukung karakter rasa durian yang khas.
“Saat ini sudah ada lebih dari 15 hektare lahan petani yang dikembangkan untuk durian. Alhamdulillah, sekarang ada beberapa pendatang baru yang membeli lahan dan mengonservasikannya untuk tanaman durian,” ujarnya.
“Desa Branjang posisinya lebih tinggi dibandingkan Gunungpati, berada di lereng Gunung Ungaran. Kondisi tanahnya sangat bagus dan menghasilkan durian dengan karakter rasa tersendiri,” ia menambahi.
Upaya pengembangan kawasan juga mulai dilakukan dari tingkat lokal. Sejak empat tahun lalu, pihak RW telah mengajukan pembangunan jalan usaha tani kepada pemerintah desa.
Akses yang semula hanya selebar setengah meter, kini telah diperlebar hingga dua meter dan dapat dilalui kendaraan roda empat.
Ke depan, jalur tersebut akan terus dibenahi sebagai bagian dari upaya mendorong minat masyarakat dan wisatawan, seiring dengan sosialisasi yang telah dilakukan kepada warga terkait pengembangan desa wisata.
“Secara administratif, Desa Branjang sebenarnya sudah tercatat sebagai desa wisata nomor 313 se-Indonesia. Ke depan, kami berharap desa ini bisa lebih spesifik dikembangkan sebagai desa wisata durian,” imbuh Zamroni.
Berdasarkan data yang dihimpun Indoraya.News, Desa Branjang memiliki ratusan hektare lahan petani yang ditanami berbagai jenis durian. Salah satunya adalah kebun milik Tumidiarso, petani durian asal Desa Branjang, yang menanam beragam varietas unggulan.
Varietas tersebut meliputi Bawor, Monti atau yang dikenal sebagai Montong Gunungpati (lokal), Musang King, hingga durian Duri Hitam.
Seluruh jenis durian tersebut telah ditanamnya sejak lima tahun lalu.
Pada tahun ini, Tumidiarso mulai memanen durian dari kebunnya. Ia mengungkapkan alasan tidak hanya menanam durian lokal karena minat pasar terhadap varietas unggulan tergolong tinggi, dengan harga jual yang juga kompetitif.
“Durian ini saya tanam lima tahun lalu di lahan ini. Setelah kami panen, petani lain kemudian ikut menanam empat jenis durian yang sama. Kualitasnya lebih bagus dibandingkan durian lokal, harganya juga kompetitif, dan peminatnya lebih tinggi, terutama Musang King yang saat ini harganya mencapai Rp250 ribu per kilogram,” ujarnya.
Meski publik lebih mengenal durian Semarang berasal dari Gunungpati, Tumidiarso menegaskan bahwa Desa Branjang merupakan salah satu penyangga utama pasokan durian ke wilayah tersebut.
“Untuk durian lokal Branjang, pasarnya banyak di Gunungpati karena durian Branjang menjadi penyangga utama pasokan durian Gunungpati,” jelasnya.
Bahkan, durian hasil kebun Tumidiarso kini telah dipasarkan ke berbagai kota besar di Pulau Jawa dan memiliki pelanggan tetap.
“Produksi kami sudah dipasarkan ke hampir seluruh kota besar di Jawa dan sudah memiliki banyak pelanggan tetap,” pungkasnya.


