INDORAYA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong percepatan pengembangan bandara antariksa nasional sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian teknologi antariksa Indonesia. Langkah ini dinilai penting untuk menjawab pesatnya perkembangan teknologi global dan meningkatnya kebutuhan nasional di sektor keantariksaan.
Kepala BRIN Arif Satria menyatakan, target kemandirian antariksa Indonesia yang diproyeksikan tercapai pada 2040 masih sangat mungkin dipercepat, selama seluruh pihak bekerja secara fokus dan produktif.
“Kita tidak boleh setengah-setengah. Kalau bisa sebelum 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya fokus, alokasi waktu, dan produktivitas,” ujar Arif seperti dikutip dari website BRIN, Jumat (2/1/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Arif saat kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, Rabu (31/12/2025). Kunjungan ini membahas kesiapan fasilitas riset keantariksaan, persiapan peluncuran Satelit A4, serta pengembangan bandar antariksa sebagai fondasi strategis kedaulatan teknologi nasional.
Dalam pembahasan tersebut, BRIN menyoroti kesiapan infrastruktur pendukung peluncuran satelit dan roket yang dikembangkan melalui koordinasi lintas kementerian dan lembaga. Salah satu fokus utama adalah optimalisasi Bandar Antariksa Biak di Papua yang dinilai strategis karena letaknya dekat garis khatulistiwa dan efisien dari sisi energi peluncuran.
Arif menegaskan, percepatan pengembangan antariksa tidak cukup bertumpu pada pembangunan fisik semata, tetapi juga memerlukan tata kelola dan pembagian peran yang jelas antarunit.
“Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi,” tegasnya.
Terkait penguatan fungsi keantariksaan nasional, Arif menyebut pembahasan kelembagaan masih berjalan bersama Kementerian PAN-RB dan kementerian serta lembaga terkait. Menurutnya, efektivitas fungsi lebih penting dibandingkan bentuk organisasi.
“Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ucapnya.
Sementara itu, Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan bahwa pengembangan bandar antariksa telah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017–2040. Namun, dinamika global dan percepatan teknologi membuat sejumlah target perlu dievaluasi.
“Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis,” ujarnya.
Ia menambahkan, Indonesia ditargetkan mampu meluncurkan satelit dan roket secara mandiri dari wilayah sendiri sebelum 2040, target yang dinilai masih sangat mungkin dipercepat.
Arif juga mendorong peningkatan kualitas riset serta pemanfaatan hibah internasional oleh para periset BRIN. Ia menegaskan komitmen BRIN dalam menyempurnakan sistem pendanaan dan penghargaan riset untuk mendukung pengembangan teknologi strategis nasional.
“Tidak ada negara yang berjaya di antariksa dengan kerja setengah-setengah. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu,” pungkas Arif.


