INDORAYA – Jawa Tengah bersiap menghadapi puncak cuaca ekstrem pada Januari hingga Februari 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah telah menyiapkan strategi kesiapsiagaan menyeluruh setelah sepanjang 2025 mencatat 361 bencana, dengan banjir dan longsor sebagai bencana dominan.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Jawa Tengah, Muhammad Chomsul, menjelaskan bahwa koordinasi lintas sektor telah dilakukan sejak Oktober 2025.
“Kami melakukan rapat koordinasi dengan OPD terkait dan BPD Kabupaten/Kota, menyiapkan personel, peralatan, serta langkah-langkah operasional untuk menghadapi kondisi ekstrem ini,” ujarnya saat dikonfirmasi, Sabtu (3/1/2026).
Langkah kesiapsiagaan juga diperkuat dengan surat edaran Gubernur Jawa Tengah yang diteruskan ke seluruh Kabupaten/Kota untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Chomsul menambahkan, BPBD menyiapkan respons cepat dan menyebarkan informasi peringatan dini melalui media sosial, grup WhatsApp, dan jejaring komunikasi lainnya.
“Masyarakat juga bisa berpartisipasi dalam penanganan awal dengan memahami rencana evakuasi dan siap siaga di wilayahnya,” jelasnya.
Data BPBD menunjukkan bahwa sepanjang 2025 banjir menjadi bencana terbanyak dengan 137 kejadian, diikuti cuaca ekstrem 114 bencana, longsor 43 bencana, kebakaran hutan dan lahan 20 bencana, serta kebakaran gedung dan permukiman 16 bencana.
“Dampak korban jiwa pada 2025 lebih banyak disumbang oleh longsor,” ujar Chomsul.
Untuk memetakan titik rawan bencana, BPBD Jawa Tengah terus memperbarui Kajian Risiko Bencana (KRB) setiap lima tahun. Saat ini, seluruh 35 Kabupaten/Kota memiliki KRB provinsi, sementara sekitar 70 persen kabupaten/kota memiliki kajian risiko masing-masing.
Dengan strategi kesiapsiagaan yang matang, pemerintah berharap Jawa Tengah dapat menghadapi puncak cuaca ekstrem 2026 dengan respons cepat, meminimalkan korban jiwa, dan menjaga keselamatan masyarakat. Chomsul menekankan pentingnya masyarakat aktif memantau informasi cuaca dan mengenali risiko di wilayah masing-masing.
“Hindari aktivitas yang tidak mendesak di daerah rawan banjir dan longsor, serta segera laporkan jika terjadi bencana,” ujarnya.


