INDORAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi masa pancaroba menuju musim penghujan.
Peringatan ini disampaikan menyusul banjir yang melanda kawasan Kaligawe dan Genuk, Kota Semarang, dalam dua pekan terakhir.
Menurut prediksi BMKG, fase kritis cuaca ekstrem diperkirakan terjadi pada Januari hingga Februari 2026.
“Kalau dari informasi BMKG, puncaknya itu di Januari–Februari. Di masa transisi ini pasti hujannya deras, anginnya kenceng. Jadi dari laporan-laporan kami, pohon tumbang itu banyak, kemudian hujan deras pasti terjadi, banjir di mana-mana,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, saat dihubungi Indoraya.News melalui sambungan telepon, Jumat (7/11/2025).
Bergas menjelaskan, masa peralihan musim sering diwarnai kondisi cuaca yang tidak menentu dan tanah yang masih labil. Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah serta masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan di wilayah rawan bencana.
“Harapan kami, semua pemerintah daerah, BPBD, relawan sampai masyarakat harus waspada melihat cuaca. Kalau tempatnya banjir, barang-barang di bawah bisa disiapkan untuk dinaikkan sebelum evakuasi. Kalau di longsor, ya menutup retakan-retakan yang ada,” katanya.
Sementara itu, menanggapi dugaan bahwa banjir Kaligawe–Genuk terjadi akibat proyek tanggul laut, Bergas menepis anggapan tersebut. Ia menegaskan, tanggul laut justru menjadi solusi jangka panjang untuk menekan risiko banjir di kawasan pesisir Semarang.
“Tanggul laut ini justru menjadi solusi jangka panjang. Hanya saja sistem tanggul laut ini yang harus dilengkapi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, genangan air yang lama surut lebih disebabkan karena belum selesainya sejumlah bagian sistem tanggul, bukan karena tanggul itu sendiri.
Namun, pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pompa membuat proses penanganan lebih cepat, hingga genangan surut hanya dalam empat hari.
“Walaupun Satgas Pompa ini bekerja 10 hari, ternyata dalam kurun waktu 4 hari sudah bisa disaksikan cenderung hampir di semua titik terjadi penyurutan. Itulah efektivitas dari perjalanan ini, menutupi kekurangan yang ada,” terangnya.
Menurut Bergas, langkah perbaikan sistem ini akan memperkuat kesiapan Jawa Tengah menghadapi puncak musim hujan mendatang.
Meski genangan baru benar-benar surut setelah hampir dua pekan, Bergas menilai bencana yang terjadi di kawasan Kaligawe–Genuk masih tergolong banjir berskala sedang.
“Sebetulnya nih sedang ya, belum yang kelas berat itu, belum. Apalagi ditambah TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca), kan begitu. Tinggal memperbaiki sistem ini loh, maka sebelumnya kolam retensi ini sebagai penyeimbang,” jelasnya.
Bergas menambahkan, keberadaan pompa air dan kolam retensi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas mekanisme air di wilayah kota.
“Kalau kurang pompanya, berarti sistemnya dilengkapi. Kalau belum siap di tanggal sekian harus dipercepat,” ujarnya.
Menanggapi keluhan sebagian warga mengenai keterlambatan distribusi bantuan, Bergas menegaskan bahwa jalur logistik di Kota Semarang telah tersebar di beberapa titik. Baik yang dikelola oleh pemerintah maupun masyarakat.
“Titik-titik pusat bantuan logistik itu ada di beberapa titik. Tinggal mengaksesnya saja. Kata kuncinya memang tidak terlepas dari struktur kewilayahan — dari mulai Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, Pak Camat,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam mempercepat proses penyaluran bantuan dan mitigasi bencana.
“Bencana adalah urusan bareng-bareng. Kata kuncinya respect saja,” pungkas Bergas.


