INDORAYA – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah (Jateng) bersama tim gabungan melakukan operasi besar-besaran untuk memberantas peredaran narkotika di dua wilayah yang dikategorikan rawan, yaitu Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang, dan Teposan, Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta, pada Jumat (7/11/2025).
Operasi tersebut melibatkan sekitar 60 personel gabungan dari berbagai instansi, di antaranya Ditresnarkoba Polda Jateng, Satresnarkoba Polrestabes Semarang, Ditpolairud, BIN Daerah Jateng, Bea Cukai Jateng–DIY, TNI AL, perangkat kelurahan, serta BNNK Surakarta.
Kegiatan itu dipimpin langsung oleh Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Agus Rohmat, didampingi Kabid Pemberantasan dan Intelijen KBP Henry Julius Pardomuan serta Wadir Resnarkoba Polda Jateng AKBP Donny Sardo Lumbantoruan.
Dalam operasi tersebut, Henry mengungkapkan bahwa tiga tersangka berhasil diamankan setelah dinyatakan positif menggunakan sabu di tiga lokasi berbeda.
Di lokasi pertama, yaitu Tambak Mulyo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang Utara, petugas menangkap HM (35) yang sempat berusaha kabur dari lantai dua rumahnya. Dari penggerebekan itu, disita sejumlah barang bukti berupa alat hisap sabu, pil berlogo “Y”, timbangan digital, buku tabungan, 46 butir Alprazolam, serta satu unit sepeda motor.
Kemudian di lokasi kedua, tepatnya di Jalan Kebonharjo, Tanjung Emas, petugas meringkus SR (31) dengan barang bukti alat hisap sabu dan perlengkapannya. Sementara di lokasi ketiga, yaitu di wilayah Teposan, Sriwedari, Surakarta, tim BNNK Surakarta menangkap GR (32) dengan barang bukti 7 butir Alprazolam, 8 butir Diazepam, dan 5 butir Tramadol. Ketiganya terbukti positif menggunakan sabu berdasarkan hasil tes urine.
“Ketiga tersangka beserta barang bukti telah diamankan untuk pemeriksaan lebih lanjut di BNNP Jateng dan BNNK Surakarta,” jelas Henry melalui keterangan resminya yang diterima Indoraya.News, Senin (10/11/2025) malam.
Sementara itu, Kepala BNNP Jateng Brigjen Pol Agus Rohmat menegaskan bahwa operasi ini tidak hanya bertujuan menangkap pelaku, tetapi juga bagian dari strategi pemulihan kawasan rawan narkoba yang selama ini menjadi perhatian serius.
“Operasi ini merupakan strategi besar BNN untuk menghadirkan rasa aman dan memulihkan kondisi sosial masyarakat. Kami ingin memastikan perang melawan narkoba tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga mengembalikan harapan warga,” ujarnya.
Agus menekankan bahwa keberhasilan pemberantasan narkotika tidak cukup diukur dari banyaknya pelaku yang ditangkap, namun dari kemampuan masyarakat bangkit dan menjaga lingkungannya agar terbebas dari narkoba.
“Yang kami perjuangkan bukan hanya penindakan, tetapi perubahan sosial. Ketika masyarakat berani melapor dan saling peduli, di situlah kemenangan sejati War on Drugs for Humanity,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Wadir Resnarkoba Polda Jateng AKBP Donny Sardo Lumbantoruan menyampaikan apresiasi atas kerja sama lintas lembaga yang terlibat dalam operasi gabungan tersebut.
“Peredaran narkotika bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga masalah kemanusiaan dan masa depan generasi bangsa. Karena itu, operasi seperti ini harus berkelanjutan dan berorientasi pada pemulihan masyarakat,” ujarnya.
Donny menambahkan bahwa Polda Jateng akan terus memperkuat sinergi dengan BNNP Jateng, pemerintah daerah, dan lembaga lain guna memperkuat program Jawa Tengah Bersinar (Bersih dari Narkoba).
Operasi gabungan ini menunjukkan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya dilakukan lewat tindakan hukum, tetapi juga melalui edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan rehabilitasi sosial. Dengan semangat War on Drugs for Humanity, BNN Jateng menegaskan kembali komitmennya: memerangi narkobanya, bukan manusianya; memulihkan, bukan sekadar menghukum.


