INDORAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan intensitas hujan tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Jawa Tengah dalam beberapa waktu ke depan. Kondisi ini meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor, terutama di daerah dengan tingkat kerentanan tinggi.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Gempita Icky Dzikrullah menjelaskan, hujan deras yang turun dengan durasi cukup lama menjadi pemicu utama munculnya bencana di sejumlah wilayah, termasuk Pati, Kudus, dan Jepara yang belakangan terdampak banjir dan longsor.
“Untuk bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah Pati, Kudus, Jepara, terjadi saat adanya hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang cukup lama. Curah hujan tinggi tersebut dapat menjadi salah satu faktor terjadinya bencana,” kata dia, Minggu (11/1/2025).
Menurutnya, saat ini Jawa Tengah tengah berada pada periode puncak musim hujan. Pada fase tersebut, berbagai jenis bencana berpotensi terjadi, mulai dari banjir atau genangan, tanah longsor, angin kencang, hingga sambaran petir.
Namun demikian, BMKG belum dapat memastikan secara spesifik wilayah mana saja yang paling berisiko mengalami bencana hidrometeorologi, karena penilaian tingkat kerawanan berada pada kewenangan instansi lain.
“Secara detail wilayahnya kami belum bisa memastikan, karena untuk kerawanan bencana merupakan ranah instansi lain. Namun karena Jawa Tengah sedang berada pada periode puncak musim hujan, hampir seluruh wilayah Jateng berpotensi mengalami hujan dengan intensitas tinggi. Potensi bencana sangat bergantung pada tingkat kerentanan masing-masing wilayah,” ungkapnya.
Terkait karakteristik musim hujan tahun ini, Gempita menyebut polanya secara umum tidak jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, masyarakat yang membutuhkan informasi lebih rinci terkait analisis iklim dan musim hujan dapat mengonfirmasi langsung ke Stasiun Klimatologi Jawa Tengah.
BMKG juga memperkirakan potensi hujan dengan intensitas tinggi dan dampak bencana hidrometeorologi masih akan berlangsung hingga Februari 2026. Karena itu, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan tidak mengabaikan peringatan dini cuaca.
“Masyarakat dihimbau tetap tenang dan waspada, selalu mengupdate informasi dari sumber yang terpercaya, hindari kepanikan, serta ikuti arahan pemerintah setempat atau instansi terkait kebencanaan ketika adanya potensi maupun saat terjadi bencana,” katanya.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan kanal informasi resmi, seperti akun media sosial @infoBMKG, aplikasi InfoBMKG, serta laman cuaca.bmkg.go.id. Untuk pemantauan cuaca khusus wilayah Jawa Tengah, informasi juga dapat diakses melalui akun Facebook dan X @cuacajateng, Instagram cuaca_jateng, serta situs resmi stamet-ahmadyani.bmkg.go.id.


