Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Siang Panas dan Malam Hujan
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Nasional

BMKG Jelaskan Penyebab Cuaca Siang Panas dan Malam Hujan

By Redaksi Indoraya
Kamis, 22 Mei 2025
Share
4 Min Read
Ilustrasi hujan (Foto: Istimewa)
SHARE

INDORAYA – Meski Indonesia telah memasuki awal musim kemarau, beberapa daerah masih mengalami cuaca tak menentu, seperti terik matahari di siang hari dan hujan deras pada malam hari. Apa yang menyebabkan kondisi ini?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa selama sepekan terakhir, hujan deras hingga sangat deras masih terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatra Barat, Jambi, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan lainnya.

“Meskipun sebagian wilayah sudah memasuki musim kemarau, curah hujan yang terindikasi signifikan masih kerap terjadi, terutama pada sore hingga malam hari,” ujar BMKG dalam laporan Prospek Cuaca Mingguan tanggal 20–26 Mei 2025, Selasa (20/5/2025).

BMKG menambahkan bahwa “di sisi lain, suhu udara yang menyengat pada siang hari terasa relatif lebih hangat akibat kelembaban udara yang lembab.”

Fenomena ini terjadi karena kondisi atmosfer yang sangat labil, yang dipicu oleh kombinasi suhu laut, tekanan udara, dan kelembapan tinggi. Akibatnya, terbentuk awan konvektif seperti Cumulonimbus yang mampu menyebabkan cuaca ekstrem, mulai dari hujan deras, petir, angin kencang, hingga hujan es.

BMKG menyebut bahwa dalam sepekan terakhir, intensitas hujan yang tinggi telah memicu bencana hidrometeorologi di berbagai daerah yang disebutkan sebelumnya.

Kondisi ini tidak semata disebabkan oleh konvektivitas lokal yang biasa terjadi saat masa peralihan musim, namun juga dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala besar seperti aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby Ekuatorial. Ketiga faktor tersebut turut mendorong peningkatan pembentukan awan hujan, khususnya di wilayah barat dan tengah Indonesia.

“Meskipun lebih banyak wilayah terindikasi memasuki awal musim kemarau pada akhir bulan Mei akibat Monsun Australia yang diprakirakan menguat, hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi akibat aktivitas MJO dan gelombang atmosfer tersebut,” lanjut BMKG.

Tanda Musim Peralihan Berakhir

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, tahun lalu pernah menjelaskan bahwa pola cuaca berupa siang yang panas menyengat dan hujan malam hari atau dini hari, merupakan indikasi akhir dari masa peralihan musim hujan ke kemarau.

“Jadi semakin terik suhu umumnya diikuti hujan di malam hari, walaupun sifat hujannya tidak sebesar pada umumnya saat musim penghujan. Ini adalah indikasi yang biasa terjadi akhir musim transisi pertama,” jelas Eddy.

BMKG menginformasikan bahwa musim kemarau 2025 mulai berlangsung secara bertahap sejak April hingga Juni. Beberapa daerah yang memasuki musim kemarau pada April meliputi bagian timur Lampung, pesisir utara Jawa bagian barat, pesisir Jawa Timur, sebagian Bali, NTB, dan NTT.

Untuk bulan Mei, musim kemarau diperkirakan mulai di sebagian kecil wilayah Sumatera, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian Kalimantan Selatan, Bali, serta Papua bagian selatan.

Kemudian pada bulan Juni, musim kemarau akan meluas ke wilayah yang lebih luas, mencakup sebagian besar Sumatera, Jawa bagian barat, Kalimantan bagian selatan, serta beberapa wilayah Sulawesi dan Papua.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyampaikan bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi berlangsung dalam kondisi normal. Namun, ada juga daerah yang mengalami pergeseran waktu dibandingkan dengan rata-rata musim kemarau biasanya.

“Jika dibandingkan terhadap rerata klimatologinya (periode 1991–2020), maka Awal Musim Kemarau 2025 di Indonesia diprediksi terjadi pada periode waktu yang SAMA dengan normalnya pada 207 ZOM (30%), MUNDUR pada 204 ZOM (29%), dan MAJU pada 104 ZOM (22%),” ujar Dwikorita dalam keterangan resminya, Kamis (13/3/2025).

Ia juga menyebut wilayah yang awal musim kemaraunya sesuai normal mencakup Sumatera, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, sebagian Maluku, serta sebagian Maluku Utara.

 

TAGGED:BMKGcuaca ekstrem
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Ribuan Desa Gagal Dapat Dana 2025, Sekda Minta Kades Lebih Sigap Ajukan Persyaratan Kamis, 11 Des 2025
  • Pegadaian Resmikan Kelas Industri di SMKN 1 Petarukan untuk Cetak Lulusan Siap Kerja Kamis, 11 Des 2025
  • Ribuan PPPK Warnai Jatidiri, Kisah Haru Honorer 8–14 Tahun Pecah di Momen Penyerahan SK Kamis, 11 Des 2025
  • Pertamina & UNDIP Mulai Tanam 48 Ribu Pohon untuk Pulihkan Hulu DAS Babon Kamis, 11 Des 2025
  • Gubernur Jateng Serahkan 13.111 SK PPPK Paruh Waktu, Komitmen Hapus Honorer di 2026 Kamis, 11 Des 2025
  • Gubernur Ahmad Luthfi Dorong Collaborative Government untuk Majukan Jawa Tengah Kamis, 11 Des 2025
  • Targetkan Kurangi Backlog 1,3 Juta Rumah dalam Lima Tahun, Pemprov Jateng Maksimalkan Simperum dan KKN Tematik Kamis, 11 Des 2025

Berita Lainnya

Nasional

Badan Otorita: Pembangunan Tanggul Laut di Pantura Jawa Butuh Waktu 30 Tahun

Rabu, 10 Des 2025
Nasional

38.878 Ha Lahan Pertanian di Sumut Rusak Akibat Banjir, Kerugian Capai Rp1,13 Triliun

Senin, 08 Des 2025
Nasional

Eks Kepala BMKG Ingatkan Banjir di Sumatra Bisa Terjadi di Jawa hingga Papua

Jumat, 05 Des 2025
Nasional

Prabowo Rancang Kompleks Olahraga Raksasa Seluas 500 Hektar

Jumat, 05 Des 2025
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?