Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Bencana di Sumatera Jadi Peringatan, Warga Jateng Desak Hentikan Proyek Perusak Lingkungan
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Semarang

Bencana di Sumatera Jadi Peringatan, Warga Jateng Desak Hentikan Proyek Perusak Lingkungan

By Lu'luil Maknun
Kamis, 18 Des 2025
Share
3 Min Read
Sarasehan Hari Antikorupsi Sedunia bertajuk "Korupsi dan Darurat Iklim" di Semarang, Kamis (18/12/2025). (Foto: Luklu'il Maknun)
SHARE

INDORAYA – Rentetan bencana ekologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera menjadi alarm serius bagi warga Jawa Tengah. Mereka mendesak pemerintah menghentikan proyek-proyek ekstraktif dan pembangunan yang dinilai mengabaikan daya dukung lingkungan serta mengancam keselamatan masyarakat.

Desakan tersebut mengemuka dalam Sarasehan Hak Asasi Manusia dan Darurat Iklim yang digelar di Gedung Balai Bahasa Semarang, Kamis (18/12/2025). Warga menilai banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat tidak bisa dilepaskan dari praktik penggundulan hutan dan eksploitasi sumber daya alam yang masif.

Kekhawatiran serupa dirasakan masyarakat Jawa Tengah, khususnya di wilayah yang selama ini menjadi lokasi tambang dan proyek strategis nasional. Salah satunya di Pegunungan Kendeng, kawasan karst yang terus tertekan oleh aktivitas penambangan batu kapur.

Petani Kendeng, Joko Priyanto, menyebut eksploitasi lingkungan yang terjadi saat ini sebagai bentuk perampasan masa depan generasi mendatang. Ia menilai kerusakan alam bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keadilan sosial.

“Sumber daya alam diambil habis tanpa menyisakan apa pun untuk anak cucu. Itu bagi kami adalah bentuk korupsi,” ujarnya.

Menurut Joko, penambangan di kawasan karst Kendeng ibarat bom waktu yang sewaktu-waktu dapat memicu bencana. Dampaknya pun mulai dirasakan warga dalam beberapa tahun terakhir.

“Sekarang sudah terlihat. Di beberapa wilayah Rembang yang dulu tidak banjir, sekarang mulai banjir. Ini akibat kerusakan alam,” katanya.

Penolakan terhadap proyek yang merusak lingkungan juga datang dari kawasan pesisir Jawa Tengah. Haryono, nelayan terdampak proyek PLTU Batang, menyebut pembangunan industri telah mengganggu sistem pengairan dan mata pencaharian warga.

Ia menuturkan aliran Sungai Roban dibendung dan dialihkan untuk kepentingan kawasan industri, sehingga lahan pertanian warga mengalami krisis air.

“Warga tidak bisa menanam apa-apa. Pengairannya krisis,” ungkapnya.

Di laut, nelayan juga menghadapi keterbatasan ruang tangkap akibat lalu lintas kapal industri. Abrasi pesisir pun semakin parah. Dalam lima tahun terakhir, wilayah pesisir Batang disebut telah terkikis hingga sekitar 45 meter.

Ironisnya, menurut Haryono, warga terdampak tidak pernah mendapatkan sosialisasi maupun kompensasi sejak proyek dimulai.

“Sejak peletakan batu pertama tahun 2012, tidak ada sosialisasi sama sekali,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan Marzuki, nelayan Tambakrejo, Kota Semarang. Ia menyoroti ketidakpastian hukum yang terus membayangi warga pesisir, terutama terkait ancaman penggusuran akibat proyek pelabuhan dan tanggul laut.

“Kami tidak punya kepastian hukum. Kalau ada proyek, kami yang pertama digusur,” ujarnya.

Marzuki menegaskan, relokasi ke rumah susun bukan solusi bagi nelayan. Kedekatan dengan laut merupakan kebutuhan utama untuk menjaga keberlangsungan hidup mereka.

“Kami nelayan. Harus tinggal dekat laut. Kalau jauh, kami kehilangan mata pencaharian,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah tidak menunggu bencana serupa terjadi di Jawa Tengah. Mereka mendesak evaluasi menyeluruh terhadap proyek-proyek yang dinilai merusak lingkungan serta mengancam ruang hidup masyarakat.

TAGGED:Berita Semarang TerbaruBerita Semarang TerkiniProyek Perusak Lingkungan JatengSarasehan Hak Asasi Manusia dan Darurat Iklimsumber daya alam semarang
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Desa Tempur Jepara Tak Lagi Terisolasi, Penanganan Banjir Terus Berlanjut Selasa, 13 Jan 2026
  • Apple Gandeng Google, Gemini Disiapkan Jadi Fondasi AI di iPhone dan Siri Selasa, 13 Jan 2026
  • Program Demak Cerdas Perluas Akses Internet SMP Negeri, Perpustakaan Digital Jadi Fokus Selasa, 13 Jan 2026
  • Belum Naik, Harga Daging Sapi di Batang Masih Stabil Awal Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • Dilanda Cuaca Ekstrem dan Banjir, Kudus Siaga Bencana Hingga 19 Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • 530 Hektare Lahan di Batang Bakal Ditanami Padi Biosalin Tahun Ini Selasa, 13 Jan 2026
  • Pemerintah Siap Ekspor Beras Awal 2026, Bulog Disiapkan Serap Panen Raya Selasa, 13 Jan 2026

Berita Lainnya

Semarang

Jembatan 45 Meter Bakal Dibangun, Jadi Akses Menuju Sentra Pengasapan Ikan Bandarharjo Semarang

Selasa, 13 Jan 2026
Semarang

Puluhan Anak Lintas Agama di Semarang Belajar Nilai Keberagaman Lewat Sapta Darma

Minggu, 11 Jan 2026
Semarang

1.013 RTLH di Semarang Direnovasi pada 2025, Alokasi Tahun Ini Berkurang

Minggu, 11 Jan 2026
Semarang

Nelayan Semarang Tak Bisa Melaut Gegara Cuaca Ekstrem, Pemkot Beri Bantuan

Minggu, 11 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?