Ad imageAd image

BEM Unsoed Purwokerto Tolak Keras Pembentukan Partai Mahasiswa Indonesia

Redaksi Indoraya
By Redaksi Indoraya 128 Views
2 Min Read
pelantikan Pengurus Badan EKsekutif Mahasiwa (BEM) Unsoed Periode 2022, secara luring & daring (dok. Unsoed)
INDORAYA – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, ikut angkat bicara terkait disahkannya Partai Mahasiswa Indonesia oleh Kemenkum HAM.

“Saya mewakili BEM Unsoed mendesak Partai Mahasiswa Indonesia untuk segera mengubah namanya dan tidak mencatut nama Mahasiswa Indonesia dalam nomenklatur partainya,” kata Presiden BEM Unsoed Alfan Maulana Akbar, Sabtu (23/4/2022).

Alfan juga mempertanyakan proses pembentukan partai itu yang tiba-tiba mencatut kata ‘Mahasiswa’ sebagai namanya. “Bagaimana itu prosesnya, apakah melibatkan banyak mahasiswa atau hanya kelompok tertentu saja yang mengatasnamakan mahasiswa,” terangnya.

BACA JUGA:   90 Pipa Resapan Air Dipasang Guna Minimalisir Kekeringan di Semarang

Alfan mengatakan, pergerakan mahasiswa idealnya adalah pergerakan ekstra parlementer yang berdasarkan pergerakan moral, bukan pergerakan politik praktis.

Maka itu, Alfan berujar, keberadaan partai yang sarat dengan kepentingan politik praktis itu rawan dianggap mewakili seluruh mahasiswa. “Kami khawatir, nanti muncul klaim hanya karena ada nama ‘mahasiswa’-nya. Padahal perlu ditanyakan dulu, mahasiswa yang mana,” ujarnya.

Sebab, menurut dia, proses pembentukan partai tersebut belum tentu melibatkan seluruh mahasiswa Indonesia dari sabang sampai Merauke. Selain itu, kata Alfan,sampai saat ini tidak ada komunikasi atau keterbukaan dari partai itu terhadap elemen mahasiswa yang dicatut namanya.

BACA JUGA:   BKKBN Berikan Penghargaan Kepada Arumi Bachsin dan Kahiyang Ayu Terkait Program Stunting

Alfan memastikan BEM Unsoed tidak tergabung dalam Partai Mahasiswa Indonesia. Mewakili BEM Unsoed, dia mendesak Partai Mahasiswa Indonesia itu segera mengganti namanya.

“Pendirian partai politik memang hak warga negara, tapi tidak dengan cara seperti ini. Ketika mahasiswa masuk ke parlemen, maka akan sarat dengan kepentingan politik praktis yang pragmatis. Sehingga keberpihakan terhadap rakyat berpotensi tergadaikan oleh kepentingan elit partai,” terangnya.

Alfan menambahkan, munculnya Partai Mahasiswa Indonesia juga dinilai akan menimbulkan potensi bahaya. Karena menurutnya bisa menggeser nilai-nilai ideal perjuangan mahasiswa.

BACA JUGA:   Siapkan Calon Pemimpin Perempuan, Pira Jateng Bekali 260 Kader Pendidikan Politik

“Lebih berbahaya lagi kalau ada kecenderungan berpihak kepada penguasa dengan cara berkoalisi dalam kontestasi Pemilu nantinya. Gerakan mahasiswa yang sebelumnya selalu berpihak kepada rakyat akan terancam bergeser untuk berpihak kepada penguasa,” pungkas Alfan.(FZ)

TAGGED: ,
Share this Article