Ad imageAd image

Batik Kudus, Buah Akulturasi Budaya yang Terus Dilestarikan

Sigit H
By Sigit H 137 Views
3 Min Read
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Anggraeni Hartopo, melihat batik kudus yang dipamerkan di Gedung Menara Kudus, Kamis (17/2). (Foto : laman Pemkab Kudus)

INDORAYA – Ketua TP PKK Kabupaten Kudus, Mawar Anggraeni Hartopo mengajak masyarakatnya untuk turut melestarikan batik Kudus, minimal dengan memakainya pada setiap kesempatan.

Hal itu disampaikan Mawar, saat membuka Seminar dan Pameran Batik Kudus, di Gedung Menara Kudus, Kamis (17/2). Acara tersebut digelar untuk menggali, mengangkat, dan melestarikan batik kudus.

“Sangat apresiasi acara ini, sebagai wadah pemerhati batik, walau dalam masa pandemi harus dilakukan dengan prokes dan secara daring. Pelestarian ini memang butuh proses, maka yang bisa kita lakukan adalah membangkitkan minat anak-anak muda dalam mencintai batik bahkan tertarik untuk membatik,” tuturnya, seperti dirilis laman resmi Pemkab Kudus.

BACA JUGA:   Beri Wadah Pelaku UMKM di Cilacap Utara, Bupati Tatto Launching Gedung Resolusi UMKM dan Mingser

Mawar juga mengatakan sangat menyukai batik kudus, karena perpaduan warna yang cantik dan motif yang lembut. Dia yang merupakan lulusan di bidang seni, melihat batik Kudus memiliki estetika tersendiri yang membedakan dengan batik daerah lain.

“Batik Kudus luar biasa kaya filosofi dan budaya. Kalau dilihat dari segi warna dan motif, menurut saya paling pas dan lembut. Maka batik Kudus bisa juga dipakai anak muda dan tidak hanya dalam acara formal tapi casual pun bisa,” katanya.

Mawar Hartopo berharap seminar ini bisa menjadi wadah bagi pemerhati batik untuk menelusuri jejak atau sejarah Batik Kudus. Kajian terkait batik Kudus perlu dilakukan demi menguatkan kekhasan motif batik Kudusan.

BACA JUGA:   Kemari Kedai Kopi, Kafe Industrial di Purworejo yang Bangkit Saat Pandemi

Secara virtual, Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat melihat potensi batik Kudus untuk dapat semakin dikenal di Indonesia. Menurutnya hal ini karena didasari dengan keberadaan batik Kudus yang memiliki keunikan tersendiri karena dipengaruhi multi kultur. Berdasarkan sejarah, budaya Kudus dipengaruhi oleh kultur Jawa, Tionghoa, Belanda, dan Arab lewat syiar Islam.

“Sejarah perkembangan batik Kudusan dipengaruhi dari masa kerajaan dan pesisir, akulturasi yang kaya inilah yang harus menjadi kebanggaan kekayaan intelektual multi kultur, maha karya representasi masyarakat Kudus,” ujarnya.

BACA JUGA:   Wakil Ketua DPRD Jateng Ingatkan Ancaman Globalisasi terhadap Jiwa Nasionalisme Generasi Muda

Ketua YM3SK Nadjib Hassan sebagai panitia mengungkapkan pihaknya menggelar kegiatan ini sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Ta’sis Masjid Menara.

Seminar dan pameran batik Kudus semata-mata untuk menggali dan melestarikan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia, yang telah diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB.

Pihaknya berharap dapat menjadi pemicu atau trigger yang nantinya dapat membangun kesadaran masyarakat agar cinta dan bahkan turut melestarikan batik khususnya motif Kudusan. (IR)

 

Share this Article