INDORAYA – Banjir yang melanda Kabupaten Pekalongan sejak Jumat (16/1/2026) malam, masih belum surut hingga hari ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat, sebanyak 59.729 jiwa terdampak, dengan hampir dua ribu warga terpaksa mengungsi.
Berdasarkan laporan situasi BPBD Jawa Tengah per Selasa, 20 Januari 2026, banjir merendam 28 desa di enam kecamatan, yakni Siwalan, Sragi, Tirto, Buaran, Wonokerto, dan Wiradesa. Banjir dipicu hujan dengan intensitas sangat tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pekalongan.
Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho, menyampaikan hingga saat ini sebagian wilayah masih tergenang air.
“Sebagian wilayah masih terendam dengan ketinggian bervariasi, dan evakuasi warga masih berlangsung,” kata Armin saat dikonfirmasi via WhatsApp, Rabu, (21/1/2026).
BPBD mencatat total warga terdampak mencapai 18.903 kepala keluarga atau 59.729 jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.958 jiwa mengungsi ke 25 titik pengungsian yang tersebar di berbagai lokasi, mulai dari kantor kecamatan, masjid, musala, sekolah, gedung serbaguna, hingga rumah warga.
Ketinggian air bervariasi mulai dari 10 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Genangan tertinggi tercatat di Desa Pait, Kecamatan Siwalan, dengan ketinggian air mencapai sekitar 105 hingga 120 sentimeter.
Sementara genangan terendah berada di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, dengan ketinggian sekitar 10 sentimeter.
Selain merendam permukiman warga, banjir juga berdampak pada 12.662 unit rumah dan 33 fasilitas umum. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Sebanyak 1.958 jiwa tercatat mengungsi, dengan sebagian besar berasal dari Kecamatan Tirto, Wonokerto, Sragi, dan Siwalan. BPBD memastikan kondisi pengungsi terus dipantau, terutama kelompok rentan.
“Penyaluran bantuan logistik terus dilakukan ke lokasi pengungsian dan wilayah terdampak,” ujar Armin.
Dalam penanganan darurat, BPBD Kabupaten Pekalongan berkoordinasi dengan relawan lintas unsur, PLN, dan instansi terkait. Hingga kini, sebanyak 14 dapur umum telah didirikan.
“Kebutuhan mendesak saat ini antara lain logistik, alas tidur, pampers ukuran L dan XL, obat-obatan, selimut, serta perlengkapan kebersihan,” kata Armin.


