INDORAYA – Banjir yang merendam kawasan Pantura Kaligawe, Kota Semarang, Jawa Tengah, selama hampir sepekan berdampak pada tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) di RSI Sultan Agung Semarang, yang menurun hingga 20 persen.
Selama banjir, akses menuju rumah sakit, terutama di depan gedung utama, tergenang air dengan ketinggian mencapai sekitar 80 sentimeter.
Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang, dr. Agus Ujianto, mengungkapkan bahwa layanan emergensi sempat menurun dalam lima hari terakhir. Kondisi ini disebabkan banyaknya pasien yang menjalani operasi cepat atau fast track, seperti operasi mata yang dilakukan pada hari yang sama antara pendaftaran dan tindakan.
“Ya, tentu ada penurunan, sekitar 20 persen — dari 80 menjadi 60 — untuk BOR rawat inap. Untuk layanan emergensi juga sempat menurun karena banyak pasien menjalani operasi cepat, misalnya pagi mendaftar, sore langsung operasi. Tapi kondisi ini sudah mulai pulih,” ujar Agus saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (27/10/2025).
Ia menambahkan, saat ini pelayanan rumah sakit telah kembali normal, meski sempat terjadi antrean dan penumpukan pasien.
“Sekarang sudah kembali normal, meski memang sempat ada penumpukan pasien,” sambungnya.
Agus menjelaskan, layanan medis di RSI Sultan Agung tetap berjalan selama banjir berkat kesiapan Tim Sultan Agung Disaster Water Emergency Assessment (Sadewa), yakni tim tanggap darurat yang dibentuk untuk menghadapi situasi bencana, terutama banjir di kawasan Kaligawe.
“Alhamdulillah, sekarang sudah hari keenam, air mulai mereda. Dari hari pertama sampai kelima tantangannya luar biasa, tapi pelayanan kami tetap berjalan,” ujarnya.
Seluruh layanan operasi, baik darurat maupun elektif, juga tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
“Kami tetap melakukan operasi di kamar bedah sentral. Para dokter juga kami antar-jemput sesuai jadwal yang telah disepakati bersama pasien,” ucapnya.
Agus menuturkan, para dokter tetap masuk bekerja meskipun akses jalan menuju rumah sakit terendam cukup dalam. Untuk mengantisipasi keterlambatan, tenaga medis diimbau berangkat lebih awal, dan rumah sakit menyediakan fasilitas penjemputan bagi dokter, karyawan, hingga pasien.
“Misalnya operasi jam 08.00, para dokter sudah datang sejak pukul 07.00. Mereka khawatir terlambat karena penjemputan dilakukan dari titik-titik yang cukup jauh dari rumah sakit,” jelasnya.
Titik penjemputan berada di sisi barat, mulai dari pintu keluar Tol Kaligawe hingga Jumadil Kubro, serta di sisi timur yang mencakup wilayah Bangetayu dan Genuk.
“Penjemputan menggunakan kendaraan dari Laziz, BPBD, serta mobil tambahan milik Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung yang difungsikan khusus sebagai mobil evakuasi,” paparnya.
Mobil evakuasi tersebut merupakan kendaraan Hilux yang telah dimodifikasi menjadi mobil serbaguna untuk mendukung proses evakuasi saat banjir.
“Kendaraan Hilux itu kami ubah menjadi mobil evakuasi massal dengan ruang khusus bagi pasien. Misalnya, pasien yang rutin menjalani kemoterapi dan hemodialisis kami prioritaskan untuk dijemput lebih dulu, baru kemudian pasien lain yang tidak dalam kondisi kritis,” pungkasnya.


