INDORAYA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng) menilai banjir yang merendam kawasan Pantura Kaligawe dan Genuk, Kota Semarang, sejak Selasa (21/10/2025), masih tergolong berskala sedang. Meskipun, genangan baru benar-benar surut setelah hampir dua pekan.
“Sebetulnya ini sedang ya, belum kelas berat. Apalagi ditambah TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca), kan begitu. Tinggal memperbaiki sistem ini, maka sebelumnya kolam retensi ini sebagai penyeimbang,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp Call, Jumat (7/11/2025).
Bergas memaparkan, lamanya kawasan Kaligawe–Genuk tergenang disebabkan sebagian sistem tanggul belum rampung.
Namun setelah Satuan Tugas (Satgas) Pompa dibentuk, proses penanganan berjalan lebih cepat dan genangan mulai surut hanya dalam empat hari.
“Walaupun Satgas Pompa bekerja 10 hari, ternyata dalam kurun waktu empat hari sudah terlihat hampir di semua titik terjadi penyurutan. Itulah efektivitasnya, menutupi kekurangan yang ada,” katanya.
Ia juga menanggapi anggapan publik bahwa proyek tanggul laut menjadi penyebab utama banjir di kawasan tersebut. Ia dengan tegas membantah hal itu.
Menurutnya, tanggul laut justru merupakan solusi jangka panjang dalam mengatasi persoalan banjir di wilayah pesisir Semarang.
“Tanggul laut ini justru menjadi solusi jangka panjang. Hanya saja sistem tanggul laut ini yang harus dilengkapi,” jelasnya.
Ia menambahkan, perbaikan sistem tersebut akan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan mendatang. Pompa, menurutnya, berfungsi sebagai sistem penyeimbang untuk menjaga stabilitas aliran air yang masuk ke kota.
“Kalau pompanya kurang, berarti sistemnya dilengkapi. Kalau belum siap di tanggal sekian, harus dipercepat,” ujarnya.
Menanggapi keluhan warga terkait distribusi logistik, Bergas memastikan bantuan sebenarnya telah tersebar di sejumlah titik, baik dari pemerintah maupun inisiatif masyarakat.
“Titik-titik pusat bantuan logistik itu ada di beberapa tempat. Tinggal mengaksesnya saja. Kata kuncinya tidak terlepas dari struktur kewilayahan—mulai dari Pak RT, Pak RW, Pak Lurah, sampai Pak Camat,” tuturnya.
Bergas pun menekankan pentingnya partisipasi warga agar penyaluran bantuan berjalan lebih lancar.
“Bencana adalah urusan bareng-bareng. Kata kuncinya respect saja,” pungkasnya.


