INDORAYA – Banjir dan longsor menerjang puluhan desa di Kabupaten Kudus imbas hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Jumat, (9/1/2026). Bencana ini membuat infrastruktur mengalami kerusakan, termasuk ribuan rumah warga di wilayah tersebut.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus per 12 Januari 2026 mencatat, total ada delapan kecamatan terdampak dengan 30 desa yang mengalami banjir, longsor, dan cuaca ekstrem.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan menyebutkan, ketinggian air banijir yang berkisar 20 hingga 50 sentimeter menyebabkan mobilitas warga terganggu.
“Kalau di Kudus sementara ini ya penanganannya ya nunggu surut saja. Belum ada titik-titik yang jebol. Informasi yang saya terima, belum ada laporan warga yang dievakuasi,” ujar Bergas, Senin (12/1/2026).
Adapun enam kecamatan terdampak banjir meliputi Mejobo, Jekulo, Bae, Kaliwungu, Jati, dan Kota Kudus.
Desa paling parah terdampak di Kecamatan Mejobo antara lain Desa Kesamdi sebanyak 521 KK/2083 jiwa, Desa Jojo (325 KK/1040 jiwa, Desa Mejobo (600 KK/1741 jiwa, Desa Golantepus 225 KK/701 jiwa, dan Desa Temulus 748 KK/2236 jiwa.
Ketinggian air di wilayah tersebut mencapai 55 sentimeter. Selain permukiman, sawah seluas 176,4 hektare juga tergenang.
Tak hanya banjir, longsor melanda beberapa desa di Kecamatan Gebog, Dawe, dan Bae. Total tercatat 34 titik longsor, merusak 2.888 rumah, lima kendaraan, dan menimbulkan tiga luka ringan.
Kecamatan Gebog misalnya, Desa Rahtawu terdampak 14 titik longsor yang mengganggu dua rumah dan dua KK, sementara Desa Menawan terdapat empat titik longsor dan satu meninggal dunia.
“Personil BPBD bersama TNI, POLRI, dan relawan terus melakukan pemantauan, pembersihan material longsor, pendistribusian logistik, serta penyediaan dapur umum. Prioritas utama kami memastikan akses jalan bisa dilalui warga dan distribusi bantuan lancar,” kata Bergas.
Cuaca ekstrem juga menyebabkan beberapa pohon tumbang dan talud sungai ambrol, antara lain di Kecamatan Kota Kudus dan Kaliwungu. Kegiatan harian warga terganggu, termasuk operasional sekolah di wilayah terdampak seperti Kecamatan Mejobo.
“Kami imbau warga tetap waspada, terutama saat hujan deras, dan mengikuti arahan pemerintah setempat agar risiko kerusakan dan gangguan mobilitas bisa diminimalisir,” tambah Bergas.
BPBD Kudus bersama Pemdes, Pemcam, TNI, POLRI, dan relawan terus melakukan pemantauan, pembersihan material longsor, pendistribusian logistik, serta penyediaan dapur umum di desa-desa terdampak. Sejauh ini, belum ada laporan korban jiwa tambahan akibat banjir di Kudus.


