INDORAYA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) menggelontor bantuan sebeasar Rp260 juta untuk penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara.
Di antara berbagai daerah terdampak bencana di wilayah Pantura Jateng, Desa Tempur Jepara menjadi yang terparah. Jalan utama desa sempat terputus serta sebanyak 3.522 warga terisolasi.
Namun kini, kondisi sudah membaik seiring dengan adanya penanganan dari lintas sektor. Akses menuju desa yang terletak di lereng Gunung Muria tersebut kini sudah mulai terbuka setelah alat berat masuk ke lokasi.
Gubernur Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin turun langsung ke lapangan untuk memastikan penanganan bencana longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Selasa (13/1/2026).
Dia mengatakan, Pemprov Jawa Tengah akan terus mengawal penanganan longsor Desa Tempur hingga akses kembali normal dan masyarakat dapat beraktivitas secara aman.
Menurut dia penanganan bencana di Desa Tempur tidak hanya bersifat darurat, tetapi juga harus disiapkan secara struktural dan berkelanjutan. Salah satu fokus utama adalah penataan alur sungai dan penguatan infrastruktur jalan.
“Terutama penanganan sungai. Rencananya di sebelah kanan akan kita tangani dulu, baru kemudian bisa dibangun jalan. Sementara ini, kebutuhan masyarakat kita atasi dengan dapur umum,” ujar Luthfi.
Untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi, distribusi logistik dilakukan dengan kendaraan roda dua. Pemerintah memastikan pasokan bahan pokok tetap masuk ke desa meski akses masih terbatas. Namun demikian, perhatian khusus diberikan pada kelompok rentan, terutama anak-anak usia sekolah.
Dalam penanganan awal, pemerintah telah menyalurkan berbagai bantuan, mulai dari bahan pokok, dukungan kelompok usaha bersama (KUBE), hingga Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp260 juta di desa tersebut.
“Bantuan sudah kita berikan dan akan kita tambah lagi kalau masih kurang,” kata Gubernur Jateng Ahmad Luthfi.
Salah seorang warga Desa Tempur, Adil menuturkan, bencana longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Lereng Gunung Muria selama empat hari. Akibatnya satu-satunya akses jalan keluar dari Desa Tempur terputus.
“Untuk cari pasokan jadi sangat sulit seperti bensin dan lain-lainnya. Sehari-hari saya juga lewat sini untuk keluar kerja. Sementara ini harus hati-hati lewatnya dan beresiko. Harapannya segera diperbaiki agar warga bisa keluar desa lagi,” ujarnya.


