INDORAYA – Banjir bandang menerjang Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Jumat (23/1/2026) sore hingga Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga menjadi pemicu utama terjadinya banjir.
“Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan terjadinya banjir bandang yang menerjang beberapa desa di Kecamatan Pulosari dan Kecamatan Moga,” kata Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Pengelolaan Data Informasi BPBD Jateng, Alexander Armin Nugroho saat dikonfirmasi Indoraya.news, Sabtu (23/1/2026).
Dalam peristiwa tersebut, empat desa dilaporkan terdampak, yakni Desa Gunungsari, Penakir, dan Jurangmangu di Kecamatan Pulosari serta Desa Sima di Kecamatan Moga.
Selain itu, banjir bandang juga merusak rumah-rumah warga, fasilitas ibadah, serta infrastruktur yang menghubungkan desa-desa terdampak.
“Banjir bandang menyebabkan kerusakan infrastruktur, rumah warga, serta korban jiwa dan luka,” ujar Alexander.
BPBD Jateng mencatat empat unit rumah warga terdampak parah, satu fasilitas ibadah rusak, dan dua jembatan penghubung desa terputus. Jembatan Sungai Reas juga mengalami kerusakan akibat arus banjir yang deras.
“Pengungsi masih berada di Kantor Kecamatan Pulosari,” kata Alexander.
Korban jiwa akibat banjir bandang tercatat satu orang meninggal dunia, dua orang luka berat, dan sekitar 22 orang luka ringan. Selain itu, sebanyak 119 warga masih mengungsi di Kantor Kecamatan Pulosari, dengan kondisi sebagian mengalami kesulitan kebutuhan dasar.
BPBD Jateng bersama pemerintah daerah dan relawan terus melakukan evakuasi, pendirian dapur umum, pembersihan material banjir, serta asesmen lanjutan di lokasi terdampak. Warga juga diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir susulan akibat hujan yang masih berlangsung.
“Kebutuhan mendesak saat ini termasuk logistik permakanan, family kit, pampers bayi, selimut, pakaian layak pakai, dan obat-obatan,” kata Alexander.
Selain itu, pihaknya juga terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa untuk memastikan distribusi bantuan dan penanganan korban berlangsung lancar. Evakuasi warga terdampak dilakukan ke lokasi lebih aman, sementara monitoring kerusakan dan potensi risiko banjir susulan tetap menjadi fokus.


