INDORAYA – Tanjakan Sigar Bencah di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, dikenal sebagai salah satu jalur paling menantang bagi pengendara. Elevasi curam dan tikungan tajam kerap membuat pengendara motor kewalahan.
Namun, kondisi tersebut justru menjadi ajang pembuktian ketangguhan Bajaj Maxride. Dalam sesi media trip menuju kawasan Universitas Diponegoro (Undip), sejumlah sopir Bajaj Maxride berhasil menaklukkan tanjakan Sigar Bencah tanpa hambatan berarti pada Selasa (16/12/2025).
Kendaraan roda tiga itu melaju stabil membawa rombongan wartawan melewati jalur ekstrem yang selama ini dianggap rawan. Salah satu sopir Bajaj Maxride, Slamet Gondrong (45), warga Bangetayu, mengaku telah tiga bulan terakhir menekuni profesi sebagai pengemudi bajaj. Sebelumnya, ia merupakan pedagang baju yang harus banting setir akibat penurunan omzet.
“Awalnya saya UMKM, dagang baju. Tapi sepi. Dapat tawaran dari kakak untuk jadi driver bajaj. Alhamdulillah sekarang bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, Bajaj Maxride tidak hanya tangguh menghadapi tanjakan, tetapi juga cukup menjanjikan secara ekonomi. Dalam sehari, ia bisa melayani hingga belasan orderan dengan penghasilan yang relatif stabil.
“Sehari bisa dapat sekitar 15 orderan. Minimal seratus ribu rupiah dapat. Paling jauh saya pernah antar penumpang sampai Mijen,” katanya.
Dari sisi performa, Slamet menyebut mesin 4-tak Bajaj Maxride terbukti kuat melibas tanjakan-tanjakan berat di Kota Semarang, mulai dari Sigar Bencah, Gombel, hingga Tanah Putih.
“Bajaj ini kuat. Tanjakan tidak jadi masalah. Saya sering naik turun Sigar Bencah antar pelanggan,” imbuhnya.
Sementara itu, City Manager Bajaj Maxride Semarang, Siva Gesita Lutfiana mengatakan Bajaj Maxride memiliki segmen konsumen yang cukup beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga pedagang.
“Untuk anak sekolah cukup diminati karena tarifnya murah dan bisa membawa sampai tiga penumpang. Mahasiswa juga banyak karena bajaj bisa menjangkau hampir semua tujuan,” jelasnya.
Ia menambahkan, Maxauto sebagai ATPM menghadirkan dua varian kendaraan, yakni Bajaj RE yang terintegrasi dengan aplikasi online dan Bajaj Maxima yang difokuskan untuk angkutan barang.
“Bajaj Maxima banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan logistik UMKM, khususnya pengiriman barang dagangan,” ungkap Siva.
Hal senada disampaikan Regional Manager Central Java, Bayu Subolah. Ia menyebut Bajaj Maxride kini menjadi transportasi andalan pelaku UMKM karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar sekaligus melindungi dari cuaca.
“Bajaj berpelat hitam ini bisa dipakai untuk usaha. Cocok kirim makanan, kerajinan, hingga pakaian karena terlindung dari hujan dan bisa masuk gang sempit,” katanya.
Meski berukuran ringkas, Bayu menegaskan kapasitas angkut Bajaj Maxride terbilang besar.
“Daya angkutnya bisa sampai 300 kilogram. Ini jadi solusi transportasi praktis bagi UMKM di perkotaan,” pungkasnya.


