Ad imageAd image

Badai PHK Hantam Industri Tekstil Jateng, Kesulitan Dapat Bahan dan Permintaan Turun Jadi Sebab

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 744 Views
3 Min Read
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Ndari Surjaningsih. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Kesulitan memperoleh bahan baku dan penurunan permintaan dari buyer disinyalir menjadi penyebab badai pemutusan hubungan kerja (PHK) menghantam industri tekstil di Jawa Tengah (Jateng).

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah Ndari Surjaningsih berkata, kebanyakan PHK dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dan alas kaki tidak terlepas dari penurunan kinerja TPT akibat penurunan permintaan dari buyer.

Menurutnya, penyebabnya karena kondisi global yang belum pulih serta masalah geopolitik. Yakni perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai.

“Kondisi global kan belum pulih, bisa ditandai dengan pertumbuhan ekonomi mereka yang belum bisa lebih cepat. Ada juga di beberapa negara yang laju ekonomi masih lambat,” ujar Ndari, sapaan akrabnya.

Selain itu dia mengaku di beberapa negara inflasi terpantau masih tinggi, terutama di negara buyer. Sehingga peningkatan permintaan masyarakat terhadap produk tersebut tidak mengalami peningkatan.

“Ibaratnya mereka sudah offside. Sehingga kebijakan moneter masih ketat. Sehingga ada penurunan permintaan,” kata Ndari.

Lebih lanjut dia menyebut penyumbang ekspor utama di Jateng adalah TPT dan alas kaki. Dalam perkembangannya pada tahun 2023 ekspor ke Eropa turun 24 persen, begitu pula dengan Amerika juga mengalami penurunan.

“Sehingga penjualan mereka mengalami perlambatan,” ungkap Ndari.

Kendalan lain, TPT juga mengalami kesulitan memperoleh bahan baku untuk produksi. Menurutnya, produsen alas kaki di Indonesia masih melakukan impor. Sedangkan kebijakan pemerintah yang membatasi impor mempersulit industri TPT.

“Ada kebijakan pemerintah terkait dengan impor, mengakibatkan produsen lokal yang memproduksi TPT kesulitan memeprolah bahan baku impor dari luar. Sehingga dia butuh impor tapi ada kendala mendatangkan bahan bakunya. Di sisi lain ada impor ilegal yang masuk,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya ribuan buruh PT Sai Apparel Industries Kota Semarang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pada akhir 2023 lalu. Sebagian buruh di pabrik tekstil tersebut dialihkan menjadi pekerja kontrak atau pekerja dengan perjanjian waktu tertentu (PKWT).

Pada Juni 2022 sampai 2023, jumlah karyawan di PT Sai Apparel Industries Semarang masih 8.000. Namun berangsur produksinya berkurang di tahun 2023.
Selain produksi berkurang, perusahaan juga menjual lahan kepada pihak ketiga.

Dari perusahaan telah memberikan pilihan agar para pekerjanya pindah ke pabrik yang ada di Kabupaten Grobogan. Namun banyak pekerja yang tidak berkenan, sehingga PHK mau tidak mau terjadi.

Hingga November 2023, masih tersisa sekitar 4.000 karyawan. Sebanyak 2.500 karyawan masih bekerja di PT Sai Apparel Industries Semarang dan 1.482 karyawan lainnya kena PHK pada akhir tahun 2023.

Share this Article