INDORAYA – Ketua Pembina Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA), Drs. H. Azhar Combo, turun langsung menemui peserta aksi solidaritas dan doa bersama untuk dr Astra dan dr Stefani, yang diduga menjadi korban kekerasan oleh dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Muhammad Dias Saktiawan.
Aksi tersebut digelar oleh Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Kedokteran Unissula di RSI Sultan Agung, Semarang, pada Minggu (14/9/2025).
Dalam pernyataannya di hadapan massa, Azhar Combo menyampaikan keprihatinannya atas ramainya pemberitaan yang muncul terkait kasus ini. Ia menyinggung cara media memberitakan persoalan tersebut.
“Media senang sekali kalau ada kalian begini. Media senang sekali. Tapi kita yang harus tahu diri. Tidak ada hentinya kalau kita begini terus,” ujarnya.
Azhar pun mengimbau agar seluruh pihak dapat mengakhiri polemik yang berkembang. Ia menekankan pentingnya menahan diri dan menyerahkan penyelesaian kasus ini kepada yayasan demi menjaga nama baik RSI Sultan Agung dan Unissula.
“Ayo, Bismillah, kita akhiri. Ya mas, kita akhiri ya. Demi kebaikan RSI Sultan Agung dan Unissula. Sebaiknya kita mendukung pengurus dan pembina untuk menyelesaikan masalah ini. Jangan diperpanjang,” pintanya.
Ia juga menegaskan bahwa penyelesaian akan dilakukan secara internal oleh pihak yayasan. Bila terbukti bersalah, pelaku akan dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di lingkungan yayasan maupun rumah sakit.
“Mana yang salah, kita tindak. Sanksi itu pasti, sudah ada aturannya. Di yayasan ada aturannya, di rumah sakit juga ada aturannya. Mana yang salah, nanti kita periksa,” tegasnya.
Sebelumnya, kasus dugaan kekerasan oleh Muhammad Dias Saktiawan terhadap dua tenaga kesehatan di RSI Sultan Agung telah menjadi perhatian masyarakat. Aksi solidaritas pun digelar oleh IKA Kedokteran dan sejumlah tenaga medis sebagai bentuk dukungan terhadap dr Astra dan dr Stefani.
Kegiatan dimulai dengan doa bersama di Masjid Hamidun yang dihadiri oleh jajaran yayasan dan manajemen RSI. Namun, saat tausiyah berlangsung, beberapa peserta aksi tiba-tiba membentangkan spanduk berisi tanda tangan dukungan dan menyerukan agar kasus kekerasan diusut hingga tuntas.
Tindakan tersebut langsung ditanggapi oleh pihak keamanan dan manajemen rumah sakit yang meminta agar peserta tidak menggelar orasi atau membuka spanduk di dalam masjid karena acara keagamaan masih berjalan.
Setelah itu, massa berpindah ke luar masjid, namun tetap berada di area RSI Sultan Agung. Mereka duduk membentuk lingkaran dan menyimak penjelasan dari Ketua Komite Medik RSI, dr Pudjiati Abbas Sp.A.
Usai kegiatan, peserta aksi bergerak ke halaman rumah sakit sambil menyuarakan yel-yel seperti “takbir”, “hidup mahasiswa”, dan “usut tuntas”. Mereka kembali membentangkan spanduk sebagai bentuk desakan terhadap penegakan hukum. Dalam situasi ini, Ketua Pembina YBWSA, Azhar Combo, akhirnya hadir langsung menemui para peserta aksi.
Sementara itu, dr Pudjiati Abbas menegaskan bahwa meskipun sempat dilakukan mediasi, tindakan kekerasan tetap harus diproses secara hukum. Terlebih lagi, pelaku memiliki latar belakang di bidang hukum, sehingga seharusnya memahami implikasi dari tindakannya.
“Sebagai hamba Allah itu memang saling memaafkan. (Tapi) tindakan kekerasannya tetap harus proses. Karena ini negara hukum, tidak ada yang kebal hukum kan? Apalagi, yang bersangkutan (Muhammad Dias Saktiawan) latar belakangnya adalah dosen hukum. Harusnya tahu hukum kan?” tegas dr Pudjiati saat ditemui Indoraya.News usai aksi, Minggu.


