Awal Tahun 2026, Panen Padi di Rembang Capai 5,8 Ton per Hektare

Panen padi di Kabupaten Rembang pada awal tahun 2026. (Foto: Pemkab Rembang)

INDORAYA – Panen padi awal tahun 2026 di Kabupaten Rembang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pada Musim Tanam I (MT1), produktivitas padi tercatat mencapai rata-rata 5,8 ton per hektare.

Capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi sektor pertanian, terlebih harga gabah di tingkat petani juga berada di atas Angka Pembelian Pemerintah (APP).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto mengatakan, panen perdana MT1 telah dilakukan melalui kegiatan ubinan. Kegiatan ini melibatkan penyuluh pertanian, petugas lapangan, serta Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai dasar penghitungan produktivitas.

“Berdasarkan hasil panen awal, produktivitas padi mencapai sekitar 5,8 ton per hektare. Ini menunjukkan kondisi pertanaman cukup baik,” ujar Agus, dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).

Selain produktivitas, aspek harga juga dinilai menguntungkan petani. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani saat ini mencapai Rp7.100 per kilogram, lebih tinggi dari APP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Adapun harga gabah kering giling (GKG) diperkirakan lebih tinggi seiring kualitas gabah yang relatif baik.

Menurut Agus, kualitas gabah hasil panen MT1 tahun ini tergolong optimal. Selama masa tanam hingga panen, kondisi tanaman relatif sehat tanpa serangan hama dan penyakit yang berarti, serta proses pengisian bulir berlangsung maksimal.

“Kondisi tanaman relatif sehat, pengisian bulir bagus, sehingga kualitas gabah yang dihasilkan juga baik,” jelasnya.

Meski hasil panen cukup baik, Agus mengakui masih terdapat tantangan pada tahap pascapanen, khususnya dalam proses pengeringan gabah di tengah musim hujan. Minimnya sinar matahari membuat pengeringan konvensional kurang optimal dan berdampak pada aktivitas penggilingan padi.

“Pengeringan gabah masih menjadi perhatian. Karena itu, muncul usulan agar ke depan pemerintah dapat memfasilitasi pengadaan mesin pengering gabah, untuk mendukung petani dan penggilingan padi,” ungkap Agus.

Ia menambahkan, saat ini fasilitas mesin pengering gabah di Kabupaten Rembang masih terbatas dan baru tersedia di beberapa wilayah, seperti Karangsari dan sejumlah titik lainnya. Sebagian besar petani masih mengandalkan metode pengeringan alami.

Terkait sebaran wilayah panen, Agus menjelaskan panen awal MT1 belum terfokus di satu kecamatan tertentu. Dalam waktu dekat, panen diperkirakan akan meluas dan merata di berbagai kecamatan di Kabupaten Rembang.

“Ini masih panen awal dan dalam waktu dekat akan menyebar ke kecamatan-kecamatan lainnya,” pungkasnya.