INDORAYA – Rentetan bencana hidrometeorologi masih melanda Provinsi Jawa Tengah sepanjang Januari 2026. Dalam kurun 27 hari pertama tahun ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat 269 kejadian bencana yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.
Kepala Bidang Pengendalian Operasi BPBD Jawa Tengah, Armin Nugroho menyebut, tanah longsor menjadi jenis bencana yang paling sering terjadi. Meski demikian, banjir justru menimbulkan dampak terluas, terutama di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
“Sepanjang Januari ini, total ada 269 kejadian bencana di Jawa Tengah. Secara jumlah, tanah longsor memang paling sering terjadi, namun banjir memberikan dampak yang jauh lebih besar, khususnya di wilayah Pantura seperti Pekalongan, Kudus, dan Jepara,” ujar Armin Nugroho, Selasa (27/1/2026).
BPBD mencatat, Kota Pekalongan sebagai wilayah terdampak paling parah. Puluhan ribu warga terdampak akibat banjir yang merendam permukiman hingga fasilitas umum. Bahkan, genangan air sempat mengganggu aktivitas transportasi publik, termasuk jalur kereta api.
“Di Kota Pekalongan, sekitar 35.993 warga terdampak, dan 1.035 jiwa terpaksa mengungsi,” jelas Armin.
Selain merendam permukiman, banjir juga berdampak signifikan terhadap sektor pertanian. Ribuan hektare lahan sawah terendam di sejumlah daerah, sehingga mengancam mata pencaharian petani dan ketahanan pangan regional.
“Kerusakan sektor pertanian cukup besar. Di Kabupaten Kudus, sekitar 2.890 hektare sawah terendam, sementara di Kabupaten Jepara mencapai 1.569 hektare. Lalu terbaru di Purbalingga ada 110 hektare,” ungkapnya.
Di sisi lain, ancaman tanah longsor juga terus menjadi perhatian serius BPBD. Pergerakan tanah di beberapa wilayah dilaporkan merusak infrastruktur vital dan permukiman warga.
“Ancaman longsor tetap kami waspadai. Di Brebes, jalan provinsi mengalami kerusakan akibat tergerus, dan di Sragen terdapat rumah roboh,” kata Armin.
BPBD Jawa Tengah mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, untuk meningkatkan kewaspadaan. Upaya mitigasi dan koordinasi lintas sektor terus dilakukan guna menekan potensi bencana susulan.
“Puncak musim hujan masih berlangsung. Kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan segera melapor jika terjadi kondisi darurat,” pungkasnya.


