Ad imageAd image

Anak Pasutri Tunanetra Ditolak PPDB SMA Negeri, Wali Kota Semarang Siap Berikan Beasiswa

Dickri Tifani
By Dickri Tifani 3 Views
4 Min Read
Warsito dan Uminiya (dari kiri), pasangan suami istri saat ditemui di rumahnya, di Jalan Gondang Raya 17, RT 3 RW 1, Kelurahan Tembalang, Tembalang, Kota Semarang, Kamis (4/7/2024). (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, akhirnya angkat bicara soal ramainya kabar mengenai anak pasangan suami istri (pasutri) tunanetra di wilayahnya yang tertolak sistem Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB SMA jalur afirmasi.

Mbak Ita, sapaan akrabnya mengaku sudah mendapatkan informasi tersebut. Oleh karena itu, ia siap menjamin bahwa anak dari pasutri tunanetra itu bisa bersekolah.

Pasalnya, remaja putri bernama Vita Azahra tersebut merupakan bagian dari warga Kota Semarang yang berhak mendapatkan fasilitas pendidikan

“Dia adalah bagian dari masyarakat Kota Semarang nanti kami berusaha untuk memback-up seluruhnya,” kata Mbak Ita, Rabu (10/7/2024).

Meski Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) telah mendaftarkan dan menanggung seluruh biaya di SMA Mardisiswa Semarang, pihaknya tetap akan menyokong pembiayaan selama siswi itu sekolah.

“Pemkot (Pemerintah Kota) Semarang ada beasiswa untuk SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Di kami juga ada anggaran untuk seragam bagi anak-anak yang kurang mampu,” katanya.

Selain anggaran beasiswa yang sudah dialokasikan, Mbak Ita juga menyebut Program Gerbang Harapan (Gerakan Bersama Orang Tua Asuh untuk Pengembangan Hari Masa Depan). Program itu merupakan upaya untuk menekan angka putus sekolah. Masyarakat Kota Semarang yang berkecukupan diajak menjadi orang tua asuh bagi anak kurang mampu.

Gerbang Harapan itu berfokus pada pemenuhan kebutuhan penunjang sekolah seperti seragam, buku-buku, dan alat tulis siswa-siswi di Kota Semarang.

“Kami gerakkan Gerbang Harapan, saat ini sedang melakukan inventarisasi dan mendorong orang mampu masuk menjadi orang tua asuh,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Warsito (39) dan Uminiya (42), pasangan suami istri di Kota Semarang, membagikan kisah anaknya yang ditolak saat mendaftar di PPDB SMA negeri lewat jalur afirmasi. Padahal pasutri itu tergolong miskin dan terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Kondisi sejoli tersebut saat ini sangat memprihatinkan. Dua-duanya penyandang disabilitas tuna netra yang sudah tidak bisa melihat. Aktivitas sehari-hari keduanya bekerja sebagai tukang pijat.

Pasangan itu tinggal di sebuah kontrakan di permukiman padat penduduk di Jalan Gondang Raya 17, RT 3 RW 1, Kelurahan Tembalang, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, bersama anak perempuan yang berusia 15 tahun.

Rumahnya sempit dan sangat sederhana. Dia hanya tinggal di sebuah kamar kecil, luasnya tidak ada 10 meter. Namun kamar itu pun multi fungsi. Kalau siang digunakan untuk bekerja dan malam harinya untuk istirahat dan tidur.

Anak Warsito dam Uminiya bernama Vita Azahra (15), baru saja lulus dari SMPN 33 Semarang. Dia ingin anaknya masuk SMA negeri. Namun saat mendaftar PPDB lewat jalur afirmasi, sistem PPDB menolaknya.

Jika anaknya tidak bisa sekolah negeri, maka terancam gagal sekolah. Pasalnya dengan kondisi kesehatan dan ekonomi yang dialami saat ini, sangat berat bagi pasutri tersebut menyekolahkan sang anak di SMA swasta.

“Kalau mikir keadaan saya, bener-bener belum mampu menyekolahkan anak ke sekolah swasta, itu berat sedangkan saya kepengennya SMA negeri,” ujar Uminiya, saat ditemui di kontrakan kecilnya, Kamis (4/7/2024).

Dia sangat berharap anaknya bisa diterima SMAN 9 atau SMAN 15 Semarang. Karena dua sekolah ini yang paling dekat, sehingga ongkos transportasi untuk berangkat dan pulang sekolah juga terjangkau.

“Kepengennya anak saya bisa sekolah yang deket, yang gak banyak pengeluaran, termasuk transportasinya, jadinya gak memberatkan saya gitu,” ucap Uminiya dengan nada lirih.

Share This Article