INDORAYA – Target dan ambisi besar provinsi Jawa Tengah (Jateng) untuk menjadi lumbung pangan nasional diprediksi tidak dapat berjalan mudah. Hal ini seiring dengan masifnya alih fungsi lahan persawahan di wilayah tersebut.
Berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Jawa Tengah telah kehilangan sekitar 62 ribu hektare lahan pertanian dari 2019–2024.
Selain itu juga berkurang tambahan 17 ribu hektare pada 2024–2025. Mayoritas lahan berubah fungsi menjadi perumahan, kawasan usaha, gudang, hingga pom bensin.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah Defransisco Dasilva Tavares mengatakan, masifnya alih fungsi lahan menjadi tantangan serius untuk menjadikan provinsi ini sebagai lumbung pangan nasional.
“Tantangannya Jawa Tengah ini di sini, alih fungsi lahan menjadi nomor satu yang paling besar beralih fungsi di kita,” jelas kata dia saat dikonfirmasi, Senin (12/1/2026).
Padahal pihaknya menargetkan produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 10,5 juta ton pada 2026. Target ini lebih tinggi dari rencana sebelumnya, sejalan arahan Gubernur Ahmad Luthfi untuk menjadikan Jateng sebagai lumbung pangan nasional.
“Targetnya jauh lebih tinggi daripada yang ada di rencana RPJMD. Jadi kami targetnya sampai dengan 10,5 juta ton GKG,” ujarnya.
Meski begitu, pencapaian target yang menjadi program prioritas Pemprov Jateng tersebut kini menghadapi tantangan serius seiring masifnya alih fungsi lahan.
Terkait masalah ini, pihaknya menekankan pentingnya penegakan aturan alih fungsi lahan. Setiap lahan yang dialihfungsikan wajib diganti tiga kali lipat dengan karakteristik sama, khususnya lahan irigasi.
Selain itu, Pemprov Jateng mendorong peningkatan produktivitas melalui teknologi pertanian, termasuk benih unggul dan pupuk yang tepat. Skema insentif dan disinsentif juga diterapkan, seperti di Kabupaten Boyolali, untuk menahan laju alih fungsi lahan.
“Produktivitas itu dipengaruhi oleh antara lain teknologi seperti benih yang bagus, yang produktivitasnya tinggi. Dari pupuk, teknologi yang kita aplikasikan itu,” imbuh Defransisco.
Pemprov Jateng berharap, upaya ini mampu membantu Jawa Tengah mencapai target 10,5 juta ton GKG pada akhir 2026 sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.


