Ad imageAd image

Aksi Kamisan Semarang Singgung Ganjar Gagal Jadi Gubernur Jateng Malah Maju Capres

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 8.7k Views
3 Min Read
Peringatan 17 Tahun Aksi Kamisan di depan Gedung Gubernur Jawa Tengah, Jalan Pahlawan Kota Semarang, Kamis (18/1/2024). (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Aksi Kamisan Semarang menyinggung calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo yang dianggap gagal menyelesaikan berbagai persoalan di Jawa Tengah (Jateng) selama menjabat sebagai Gubernur dua periode, mulai dari 2013 hingga 2023.

Koordinator Aksi Kamisan Semarang, Adetya Pramandira dalam peringatan 17 Tahun Aksi Kamisan, mengaku kecewa dengan Ganjar selama menjabat Gubernur Jateng. Dianggap gagal, Ganjar justru maju sebagai calon presiden 2024.

“Sangat sebal dengan Ganjar Pranowo dia nyalon presiden kemudian melempar jabatan Gubernur ke Plt (pelaksana tugas), tapi tugasnya gak diselesaikan,” katanya saat aksi di depan Gedung Gubernur Jateng, Kamis (17/1/2024).

BACA JUGA:   2 Juta Batang Rokok Ilegal Dimusnahkan di Semarang, Kerugian Negara Rp 2 Miliar

Dia membeberkan sejumlah persoalan lingkungan hidup yang gagal diselesaikan Ganjar. Salah satunya yang masih terasa hingga saat ini yaitu banjir rob di kawasan pesisir Pantura akibat industrialisasi.

“Pesisir utara industrialisasi ada relokasi dari Jawa Barat ke Jawa Tengah mulai dari Rembang ke Brebes,” kata Dera, sapaan akrabnya.

Selain itu juga konflik atas pembangunan bendungan bener di Wadas, Purworejo, yang dianggap merusak lingkungan hidup.
Menurut Dera, perusakan lingkungan hidup juga termasuk dalam pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

“Ngomong soal HAM adalah hak atas tanah, warga Wadas kehilangan tanah, warga pesisir kehilangan tanah karena rob, rob karena pembebanan bangunan dan pembebasan bangunan karena proyek strategis nasional selalu begitu dan itu kebijakan negara,” tegas dia.

BACA JUGA:   Kronologi dan Pemicu Kecelakaan Beruntun di Tol Semarang-Solo

Selain di pesisir utara yang terendam rob, kawasan pesisir selatan yang rencananya dijadikan kawasan pariwisata juga akan menjadi masalah baru di Jateng.

“Pesisir Selatan akan masuk dalam kawasan pariwisata nasional, kemudian ada kawasan tambak udang di Kebumen, ngomongin Jateng bagian tengah ada proyek geotermal,” katanya.

“Aku pikir ini kiamat ekologis, ngomongin pelanggaran HAM, rebutan tanah itu ya masuk pelanggaran HAM,” ungkap Dera yang juga aktivis lingkungan di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng.

Kemudian juga persoalan upah minimum di Jateng yang paling rendah dibandingkan dengan upah di provinsi lainnya di Pulau Jawa. Ganjar dinilai mengabaikan hak-hak kaum buruh.

BACA JUGA:   Kuliner Malam Kauman Turut Jadi Ajang Dakwah Masjid Agung Semarang

“Belum lagi buruh migran, buruh pekerja perempuan, apalagi upah Jateng provinsi paling rendah dibanding provinsi-provinsi lain. Buruh menuntut haknya tapi diabaikan sama haknya¬†sama Ganjar,” kata Dera.

Dengan berbagai rekam jejak persoalan selama menjabat sebagai Gubernur Jateng, dia mempertanyakan sikap Ganjar yang justru maju sebagai calon presiden 2024.

“Malah ganjar nyalaon presiden, kenapa malah nyalon ke nasional,” tegas Dera

Share this Article
Leave a comment