Indoraya NewsIndoraya NewsIndoraya News
Notification Show More
Font ResizerAa
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Copyright © 2023 - Indoraya News
Reading: Akademisi dan Mafino Soroti Maraknya Penyebaran Hoaks dalam Aksi Rusuh di Jateng
Font ResizerAa
Indoraya NewsIndoraya News
  • BERITA
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
  • SEMARANG
  • RAGAM
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Cari
  • BERITA
    • HUKUM KRIMINAL
    • PENDIDIKAN
    • EKONOMI
    • KESEHATAN
    • PARLEMEN
  • NASIONAL
  • PERISTIWA
  • POLITIK
  • JATENG
    • DAERAH
  • SEMARANG
  • RAGAM
    • GAYA HIDUP
    • TEKNOLOGI
    • OLAHRAGA
    • HIBURAN
    • OTOMOTIF
  • OPINI
  • KIRIM TULISAN
Have an existing account? Sign In
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
(c) 2024 Indo Raya News
Jateng

Akademisi dan Mafino Soroti Maraknya Penyebaran Hoaks dalam Aksi Rusuh di Jateng

By Dickri Tifani
Kamis, 09 Okt 2025
Share
4 Min Read
Diskusi bertajuk “Demo Rusuh atau Perusuh Demo” yang digelar Forum Wartawan Pemprov -DPRD Jawa Tengah (FWPJT) bersama Bank Jateng di selasar Kantor Gubernur Jateng, Kamis (9/10/2025). (Foto: Dickri Tifani/Indoraya)
SHARE

INDORAYA – Masifnya aksi demonstrasi di sejumlah daerah di Jawa Tengah (Jateng) pada akhir Agustus hingga awal September lalu yang berujung pada kerusuhan, masih menjadi topik yang menarik untuk diskusikan.

Forum Wartawan Pemprov -DPRD Jawa Tengah (FWPJT) bersama Bank Jateng memfasilitasi kegiatan diskusi bertajuk “Demo Rusuh atau Perusuh Demo” yang digelar di selasar Kantor Gubernur Jateng, Kamis (9/10/2025).

Diskusi ini menghadirkan berbagai unsur, mulai dari kepolisian, pengamat, pelajar, akademisi, hingga perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dosen Universitas Bhayangkara, Dr. T. Supriyadi, menyampaikan pandangannya terkait fenomena masifnya demonstrasi di Jateng yang berujung ricuh. Ia yang konsen terhadap dinamika ini bahkan melakukan riset mengenai perilaku sosial dalam aksi massa.

Dari hasil risetnya, Supriyadi mengungkapkan bahwa sebagian besar pelaku kericuhan berasal dari kalangan muda yang mudah terprovokasi oleh narasi di media sosial.

“Sebagian besar pelaku adalah anak muda dan mahasiswa yang tidak memahami konteks aksi. Mereka terbawa arus provokasi daring,” ujarnya.

Menurutnya, yang terjadi di ruang digital saat ini bukan sekadar percakapan daring, melainkan fenomena profiling influence, di mana identitas kelompok di dunia maya menular hingga membentuk perilaku nyata di lapangan.

“Media sosial kini bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga pemantik emosi massal. Satu narasi provokatif bisa menjelma menjadi gelombang aksi, bahkan kekacauan,” katanya.

Supriyadi menegaskan pentingnya masyarakat kembali menempatkan aparat sebagai pelindung, bukan pihak yang harus dihadapi.

“Polisi bekerja dalam koridor hukum dan HAM. Yang penting, baik petugas maupun peserta aksi harus menjunjung prinsip saling menghormati,” tegasnya.

Lebih lanjut, dia juga mendorong pendekatan edukatif dalam penanganan aksi mahasiswa. Menurutnya, kebebasan berpendapat harus dihormati, tapi tidak boleh disalahgunakan. Jika aksi berujung rusuh, hal ini mencederai tujuan awalnya.

Sementara itu, pegiat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Jateng, Syaiful Arifin, menilai bahwa gelombang demonstrasi yang terjadi belakangan ini merupakan kombinasi antara frustrasi publik dan derasnya arus disinformasi di media sosial.

“Kerusuhan itu adalah akumulasi kekecewaan terhadap kondisi ekonomi, kenaikan pajak, dan lambatnya respons pemerintah. Lalu muncul pihak yang menunggangi lewat arus disinformasi,” kata Syaiful yang juga seorang jurnalis.

Ia menggambarkan dinamika itu seperti pusaran. Bermula dari keresahan ekonomi, tersulut oleh tragedi kematian seorang ojek online yang mengguncang emosi publik, lalu membesar menjadi arus perlawanan yang menyatukan beragam elemen masyarakat.

“Begitu disinformasi ikut berperan, situasi langsung tak terkendali,” ungkap Syaiful.

Lima Pola Hoaks dan Tantangan Literasi Digital

Menurut Syaiful, Mafindo telah memetakan berbagai konten yang beredar menjelang aksi demonstrasi. Konten-konten hoaks ini tumbuh pesat di media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, dan Facebook.

“TikTok paling dominan karena lintas usia dan paling mudah menyebar. Anak muda paling rentan,” jelasnya.

Ia menegaskan, hoaks bukan pemantik utama kerusuhan, tetapi menjadi bahan bakar yang memperkuat amarah publik dan mendorong massa turun ke jalan.

“Hoaks dan gejolak sosial ibarat api dan bensin—saling menyulut hingga membesar,” ujarnya.

Dari hasil pemantauan Mafindo, terdapat lima pola hoaks yang paling sering beredar. Pertama, Ssigmatisasi ideologis, seperti tudingan bahwa aksi disusupi kelompok ekstrem atau PKI.

Kedua, konspirasi asing, yang menuding adanya campur tangan CIA maupun tokoh internasional seperti George Soros. Ketiga, eskalasi kekerasan palsu, berupa video bohong tentang bentrokan atau pembakaran.

Keempat, isu kekerasan seksual, yang memecah solidaritas publik dan menimbulkan konflik horizontal. Kelima, konten daur ulang, yakni video lama yang diedit ulang dan diklaim sebagai peristiwa baru.

Ia menilai, rendahnya literasi media dan informasi (LMI) menjadi akar persoalan. Menurutnya, sebagian masyarakat terlalu mudah percaya pada pesan yang diterima melalui WhatsApp atau media sosial tanpa memverifikasi.

Untuk itu, pihaknya menyerukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari media, lembaga pendidikan, komunitas, dan aparat, untuk memperkuat ketahanan masyarakat terhadap hoaks.

“Masyarakat harus kritis, skeptis, dan berhati-hati sebelum membagikan konten. Apalagi jika isinya menimbulkan kemarahan,” ungkap Syaiful.

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp

Terbaru

  • Desa Tempur Jepara Tak Lagi Terisolasi, Penanganan Banjir Terus Berlanjut Selasa, 13 Jan 2026
  • Apple Gandeng Google, Gemini Disiapkan Jadi Fondasi AI di iPhone dan Siri Selasa, 13 Jan 2026
  • Program Demak Cerdas Perluas Akses Internet SMP Negeri, Perpustakaan Digital Jadi Fokus Selasa, 13 Jan 2026
  • Belum Naik, Harga Daging Sapi di Batang Masih Stabil Awal Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • Dilanda Cuaca Ekstrem dan Banjir, Kudus Siaga Bencana Hingga 19 Januari Selasa, 13 Jan 2026
  • 530 Hektare Lahan di Batang Bakal Ditanami Padi Biosalin Tahun Ini Selasa, 13 Jan 2026
  • Pemerintah Siap Ekspor Beras Awal 2026, Bulog Disiapkan Serap Panen Raya Selasa, 13 Jan 2026

Berita Lainnya

Jateng

Dilanda Cuaca Ekstrem dan Banjir, Kudus Siaga Bencana Hingga 19 Januari

Selasa, 13 Jan 2026
Jateng

Jepara Kucurkan Rp7,7 Miliar Alsintan untuk Petani, Dorong Produktivitas dan Ketahanan Pangan

Selasa, 13 Jan 2026
Jateng

Ratusan Siswa Grobogan Diduga Keracunan MBG, Pemprov Jateng Turun Tangan

Selasa, 13 Jan 2026
Daerah

Bus DAMRI Karimunjawa Jepara Resmi Beroperasi Tahun Ini, Tarif Rp7.000 Per Orang

Selasa, 13 Jan 2026
Indoraya NewsIndoraya News
Follow US
Copyright (c) 2025 Indoraya News
  • PEDOMAN MEDIA SIBER
  • KODE ETIK JURNALISTIK
  • STANDAR PERLINDUNGAN WARTAWAN
  • TENTANG KAMI
  • DISCLAIMER
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?