Ad imageAd image

Ahmad Yani dan Adi Soemarmo Turun Status Jadi Bandara Domestik, Berpotensi Rugikan Wisata Perhotelan

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 109 Views
3 Min Read
Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. (Foto: Bandara Ahmad Yani)

INDORAYA – Keputusan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang menurunkan status dua bandara besar di Jawa Tengah (Jateng) dari internasional menjadi domestik bakal membuat rugi para pengusaha hotel dan restoran.

Pasalnya, hal ini bakal menutup pintu akses wisatawan asing yang ingin berkunjung ke Jateng melalui jalur udara di Bandara Ahmad Yani Semarang dan Bandara Adi Soemarmo Boyolali.

Pembina Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Benk Mintosih, mengaku kecewa status Bandara Ahmad Yani dan Adi Soemarmo diturunkan ke level domestik. Padahal sebelumnya, pihaknya telah meminta penambahan jalur penerbangan di dua bandara tersebut.

BACA JUGA:   Pastikan Mudik 2024 Aman, Bandara Ahmad Yani Semarang Gelar Runway Safety Team

“Kita minta tambahan flight, malah yang dikabulkan dihapus. Dan ini tentunya jelas merugikan. Bakal tidak menguntungkan pelaku perhotelan, khususnya pariwisata,” katanya saat dihubungi, Jumat (3/5/2024).

Terkait penambahan flight yang diminta, Benk mengaku kala itu pemerintah belum bisa mengabulkan lantaran kurangnya peminat dari luar negeri menuju bandara Internasional di Jateng.

Padahal menurutnya, penambahan flight ini bisa menjadi pemantik agar wisatawan tahu bahwa akses menuju Jateng sudah mudah sehingga bisa membuka rute-rute penerbangan luar negeri lainnya.

“Itu kan proses. Adanya flight baru tujuanya juga untuk pancingan, harusnya berani disubsidi dulu di awal. Ketika sudah tertarik baru akan datang sendiri. Maka saya rasa keputusan ini sepertinya belum diteliti dengan matang,” ungkap Benk.

BACA JUGA:   Sandang Internasional Bandara Ahmad Yani Semarang Dicabut, Pengelola: Sejak Awal April 2024

Pihaknya berharap peralihan status bandara internasional ke domestik untuk dua bandara tersebut hanya berlaku sementara atau bisa dibatalkan.

Oleh karena itu, hasil koordinasi dengan organisasinya di pusat, PHRI sepakat melayangkan surat keberatan kepada Kementerian Perhubungan atas keputusan tersebut.

“Mohon ditinjau lagi, karena harapan kami bisa kembali lagi ke internasional. Apalagi ketika akomodasi sudah dibetulkan, wisata ditingkatkan, pemandu wisata dan SDM disiapkan,” kata dia.

“Pemerintah harusnya mendukung, menyemangati, kurangnya apa ditambah bukan malah dihilangkan. Karena namanya pariwisata, salah satunya kan ada bandara internasional,” imbuh Benk.

BACA JUGA:   Jateng Sudah Tak Punya Bandara Internasional, Disporapar Klaim Tak Pengaruhi Kunjungan Wisatawan

Di samping itu, dia menilai bahwa keputusan mengubah status dua bandara internasional ke domestik ini tidak selaras dengan kampanye pariwisata yang selama ini digaungkan. Yakni membuat pariwisata lokal unggul di mata dunia.

“Jadi intinya, mudah-mudahan ini belum jadi keputusan final. Apalagi selama ini wisatawan asing di PHRI masih kurang dan belum terasa,” tandas Benk.

Share this Article
Leave a comment