INDORAYA – Dorongan agar pemerintah segera membatasi peredaran dinitrogen oksida (N2O) menguat setelah gas tersebut kian marak disalahgunakan. Ahli kesehatan menilai pembatasan volume dan pola distribusi menjadi langkah mendesak untuk menekan risiko kesehatan, terutama pada kalangan muda.
Ahli Kesehatan dari Universitas Griffith, Dicky Budiman, menegaskan perlunya regulasi yang lebih ketat, termasuk pengawasan dan pelabelan peringatan kesehatan pada produk yang mengandung N2O.
“Dan tentu pengawasan. Harus ada label peringatan kesehatan yang eksplisit, harus tegas, jelas,” kata Dicky, Minggu (1/2/2026).
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan tenaga medis dalam mengenali dampak penyalahgunaan gas tersebut, khususnya ketika pasien muda datang dengan gangguan saraf.
“Tentu juga ini yang penting, untuk para tenaga kesehatan yang juga harus diberikan pemahaman, kewaspadaan, pengetahuan tentang skrining inhalansia dan gas pada keluhan neurologis muda,” sambungnya.
Menurut Dicky, langkah ini penting agar fasilitas kesehatan dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh apabila ditemukan gejala yang mengarah pada paparan N2O.
“Termasuk juga pelaporan berbasis sindrom kalau ini terjadi. Ini untuk apa? Untuk serveilans berbasis instalasi gawat darurat dan bahkan pada sekolah-sekolah,” kata Dicky.
Ia mengingatkan, ancaman utama zat tersebut bukan semata status hukumnya, melainkan dampak biologisnya bagi tubuh manusia.
“Yang membuat zat berbahaya itu bukan ilegalitasnya, tapi efek biologis pada otak dan tubuh,” sambungnya.
Peringatan serupa juga disampaikan aparat penegak hukum. Kasubdit III Dittipidnarkoba Bareskrim Polri Kombes Zulkarnain Harahap menjelaskan bahwa masih banyak kesalahpahaman di masyarakat terkait penggunaan gas N2O dalam tabung seperti Whip Pink.
“Pemahaman tersebut keliru dan berisiko tinggi dikarenakan penggunaan gas N2O dapat menimbulkan risiko terhadap tubuh,” ujar Zulkarnain dalam konferensi pers terkait kematian Lula Lahfah di Polres Jaksel, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, anggapan bahwa gas tersebut aman karena digunakan di dunia medis atau tidak menyebabkan ketergantungan justru membuat sebagian orang meremehkan dampaknya, padahal penggunaan yang tidak semestinya bisa membahayakan kesehatan


