Ad imageAd image

Advokat Menduga Otak Pelaku Pembacokan 2 Mahasiswa Unwahas Lebih dari Satu

Sigit H
By Sigit H 97 Views
2 Min Read
Tim Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Garuda Yaksa. FOTO: Dokumentasi Pribadi untuk JPNN.com

INDORAYA – Advokat dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Garuda Yaksa menduga otak pelaku pembacokan terhadap 2 mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang lebih dari satu orang.

“Sangat dimungkinkan dugaan bahwa otak pelaku pembacokan lebih dari satu orang. Kami mendorong adanya pengembangan kasus untuk menemukan otak pelaku lainnya,” kata Ketua LKBH Garuda Yaksa Listiani Widyaningsih, diwakili Sugihartomo, Selasa (8/2).  Ia menceritakan kasus ini merupakan buntut dari kegaduhan saat dilaksanakannya Musyawarah Mahasiswa (Musma) Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) di Unwahas pada 30 Januari 2021.

BACA JUGA:   Bina Mental Pendidik, Bupati Jepara : Nilai-Nilai Kebangsaan Diganggu Kelompok Radikal dan Intoleran

Polisi telah menetapkan 3 tersangka pembacokan atas nama Nurudin (19), Dolly Saputra (20), dan DRX (16).  Sugihartomo mengatakan tersangka Dolly dan DRX bukanlah mahasiswa. Hanya Nurudin yang berstatus mahasiswa Unwahas dengan peran sebagai otak pembacokan.  Berkas tersangka atas nama DRX (16) sudah dilimpahkan ke pengadilan, dan dijadwalkan agenda pembacaan putusan di Pengadilan Negeri Semarang pada Rabu besok (9/2).

Para pelaku disangkakan Pasal 170 ayat 1 KUHPidana dengan ancaman paling lama 5 tahun penjara. “Berkas dua tersangka lain (Nurudin dan Dolly) harus segera dilimpahkan ke pengadilan, karena tidak mungkin pasal 170 terdakwanya hanya satu orang,” imbuhnya.

BACA JUGA:   Retribusi Pemakaman di TPU Milik Pemkot Semarang Kini Dihapus

Ia mengatakan pihaknya akan mengawal kasus ini sampai tuntas, terlebih ada indikasi intimidasi dari pihak-pihak tertentu terhadap korban.

“Kami akan berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait yang dipandang perlu untuk penyelesaian kasus ini di ranah hukum,” ujarnya.  Ia menyampaikan terima kasih kepada Unwahas yang sudah memberikan dukungan agar para pelaku yang salah satunya masih berstatus mahasiwa diproses sesuai hukum yang ada.  Sugihartomo berharap pihak kampus juga bersedia membantu lebih lanjut untuk pengembangan kasus yang ada, mengingat ada indikasi bahwa otak pelaku dari mahasiswa lebih dari satu orang. “Kepada JPU (jaksa penuntut umum) yang sedang melakukan penuntutan terhadap DRX, kami mohon agar dapat melakukan penuntutan semaksimal mungkin,” tandas. Sumber jateng.jpnn.com (IR)

BACA JUGA:   Katrol Ekonomi, Kesejahteraan Petani Wajib Diperhatikan
Share this Article