INDORAYA– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang marak terjadi di Jawa Tengah (Jateng) selama musim kemarau ternyata tidak semata-mata disebabkan oleh cuaca panas dan kering. Kepala BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan sebagian besar kebakaran lahan justru berkaitan dengan aktivitas dan kebiasaan masyarakat, termasuk praktik pembakaran lahan pertanian.
“Biasanya kebakaran lahan pertanian ya karena mungkin musim panen atau lahan tebu biasanya itu kan diobong (dibakar). Ya, human error lah,” ujar Bergas melalui sambungan telepon, Rabu (23/9/2026).
Pada lahan tebu misalnya, pembakaran kerap dilakukan dengan alasan tertentu yang berkaitan dengan proses panen. Namun, Bergas menegaskan lahan yang terbakar tidak seluruhnya merupakan perkebunan tebu. Berdasarkan pemantauan BPBD, jenis lahan yang terbakar cukup beragam, mulai dari kawasan hutan, semak belukar, hingga lahan pertanian yang bercampur.
“Ini kan macam-macam nih, dari mulai hutan, lahan semak belukar, ada lahan pertanian juga ada, campur,” jelasnya.
Akibat kebiasaan tersebut, sebanyak 868 hektare lahan dan hutan di Jawa Tengah terbakar sepanjang periode 5 Juni hingga 20 September 2026. Kebakaran itu terjadi dalam 419 kejadian karhutla yang tersebar di 34 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, dengan estimasi kerugian mencapai Rp3 miliar.
“Kerugiannya dari Karhutla itu hitungannya masih di kisaran Rp3 miliar. Yang mengalami Karhutla itu ada 34 kabupaten/kota dari 35 kabupaten/kota,” kata Bergas.
Berdasarkan data BPBD Jateng, Kabupaten Klaten menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 54 kejadian. Selanjutnya disusul Sragen dengan 47 kejadian, Boyolali 28 kejadian, Sukoharjo 26 kejadian, dan Banyumas 22 kejadian. Sementara itu, Kabupaten Semarang dan Wonogiri masing-masing tercatat mengalami 21 kejadian karhutla.
Bergas mengakui, larangan pembakaran pada lahan pertanian tebu memiliki tantangan tersendiri. Sebab, sebagian pemilik lahan memilih membakar karena dinilai lebih efisien dibandingkan membersihkan lahan secara manual.
“Itu harus gimana imbauannya? Itu (alasannya) kan sangat terkait dengan biaya panen ya. Kalau menggunakan manusia dengan dionceki (dibabat) satu-satu tentu biayanya akan lebih tinggi, mengurangi nilai (keuntungan) panen,” imbuhnya.
Meski begitu, Bergas mengingatkan bahwa pembakaran lahan tetap membawa dampak lingkungan yang lebih luas, terlepas dari alasan efisiensi ekonomi tersebut.
“Tapi kan ya apapun itu tetap karhutla. Memberikan dampak polusi, memberikan efek rumah kaca, pemanasan global, itu kan berdampak secara luas ya nantinya,” tegas Bergas.
Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran secara sembarangan dengan alasan apapun, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.
“Karena ini identifikasi kita itu bahwa ini karena human error, tentunya sosialisasi imbauan untuk tidak membakar sampah dengan alasan apapun. Walaupun itu alasan buat pemupukan kah, buat pembersihan lahan kah, buat pembersihan semak belukar, seyogyanya tidak dibakar,” imbaunya.
Bergas menambahkan, seluruh kejadian karhutla yang tercatat telah ditangani oleh petugas gabungan, yang melibatkan pemadam kebakaran, BPBD, relawan, TNI, hingga Polri.




