Ad imageAd image

95 Ribu Calon Siswa Baru Gagal Lanjutkan Sekolah di SMA/SMK Negeri Jateng

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 2 Views
3 Min Read
Ketua PPDB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng), Syamsudin. (Foto: Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Sebanyak 95 ribu calon siswa baru yang telah melakukan pengajuan akun dan verifikasi berkas pada tahap Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2024/2025 gagal melanjutkan sekolah di SMK/SMA Negeri Jawa Tengah (Jateng). Hal ini karena daya tampung siswa tidak lebih dari 225.230 orang.

Ketua PPDB Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah (Jateng), Syamsudin berkata, lulusan SMP/MTs tahun 2024 sebanyak 541.073 siswa. Dari jumlah itu yang melakukan pengajuan akun ada 434.600 orang.

Namun, hanya 320.237 calon siswa yang melakukan verifikasi berkas (verbek) pada PPDB SMA/SMK Negeri Jateng 2024. Sehingga ada sekitar 95 ribu siswa yang tidak bisa melanjutkan ke sekolah negeri.

“Yang verifikasi berkas 320.237 (calon peserta didik), daya tampung kita 225.230,” kata Syamsudin saat dihubungi wartawan, Selasa (25/6/6/2024).

Ia berkata, memang tidak semua siswa lulusan SMP/MTs melakukan pengajuan akun. Tapi ada calon siswa baru yang langsung memilih sekolah swasta untuk melanjutkan pendidikan.

“Anak-anak sudah kita sampaikan yang belum pengajuan verifikasi. Yang merespon hanya separo, yang lain tidak berproses ke negeri mungkin sudah ke swasta, dan sebagainya,” ungkapnya.

Lebih lanjut kata Syamsudin, tahapan PPDB saat ini telah memasuki masa pendaftaran dan perubahan pilihan, dimulai pada 24 hingga 27 Juni 2024.

Calon peserta didik baru bisa melakukan pendaftaran secara daring mulai 24 Juni 2024 pukul 06.00 sampai 23.59 WIB. Khusus 27 Juni 2024, pendaftaran ditutup pada 17.00 WIB.

“Pendaftaran online hari pertama sudah diangka 95 persen (dari 320 ribu CPD yang melakukan verbek),” ungkapnya.

Dia bilang, pada proses seleksi, nama calon siswa baru bisa menghilang atau terpental dari sistem. Sebab ada peserta didik lain yang jaraknya lebih dekat dengan sekolah atau nilainya lebih tinggi.

“Pada saat dia tergeser di jurnal. Itu kan yang lebih dekat (zonasi) masuk. Yang nilainya lebih tinggi masuk. Mau nggak mau dia turun dan hilang,” imbuhnya.

Sehingga dipastikan mereka tidak diterima pada sekolah tersebut. Kendati demikian calon siswa baru masih bisa melakukan perubahan ke sekolah yang lain.

“Masih bisa (pindah), nanti ada fitur upload surat keterangan sehat kalau dia masuk ke SMK,” tegas Syamsudin.

Share This Article