Ad imageAd image

86 Warga Jateng Terserang Penyakit Leptospirosis, 6 Meninggal Dunia

Athok Mahfud
By Athok Mahfud 745 Views
2 Min Read
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Jawa Tengah, Irma Makiah. (Foto: Dok. Athok Mahfud/Indoraya)

INDORAYA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat, temuan kasus leptospirosis periode Januari hingga Februari 2024 sebanyak 86. Dari jumlah ini, enam orang meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

“Di Jateng per Februari total ada 86 kasus, yang meninggal ada enam,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Jateng, Irma Makiah, saat dihubungi, Rabu (27/3/2024).

Leptospirosis memang sering muncul di musih penghujan seperti saat ini. Penyakit ini ditularkan melalui air kencing tikus yang bercampur dengan air. Banjir atau genangan air yang terjadi saat ini bisa menjadi sumber penularan bakteri Leptospira SP.

BACA JUGA:   1.382 Desa di Jateng Alami Kekeringan, 76 Juta Liter Air Bersih Disalurkan

Irma mengatakan, berdasarkan data yang dia terima, sebanarnya ada 11 kasus orang meninggal, termasuk temuan di Boyolali pada Kamis (21/3/2024) lalu. Namun berdasarkan hasil laboratorium, baru enam orang yang positif meninggal akibat leptospirosis.

“(Sisanya) ini masih menunggu hasil laboratorium, temuan terbanyak di Demak sebanyak tiga kasus orang meninggal,” beber dia.

Dia bilang, awalnya temuan kasus sepanjang Januari ada 27, kemudian pada Februari naik hingga 43 kasus. Jumlah kasus tersebut terus bertambah sampai sekarang.

“Paling banyak Kota Semarang ada tujuh kasus, satu meninggal, lalu Banjarnegara, Klaten, Grobogan sebanyak enam kasus,” ucap Irma.

BACA JUGA:   Posko Terpadu Lebaran 2024 di Jateng Mulai Dibuka, Layani Pemudik 24 Jam

Dia juga berkomentar soal temuan kasus meninggal yang terjadi di Boyolali akhir-akhir ini. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh pasien terlambat mendapat penanganan. Kondisinya sudah terlanjur drop saat berobat ke rumah sakit.

Dikatakan, gari gejala memang mengarah pada leptospirosis, misalnya pasien mengalami demam, pusing, dan gejala lainnya. Kendati demikian, Dinkes masih menelusuri secara epidemologi terkait hasil pemeriksaannya.

“Apakah betul leptospirosis atau ada diagnosa lainnya, saya masih menunggu konfirmasi terakhir dari Boyolali,” tandas Irma.

Share this Article
Leave a comment